Tampilkan postingan dengan label legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label legenda. Tampilkan semua postingan

8 Maret 2013


                                 Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D. 

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis. 


Penelitian mutakhir yang dila kukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia



Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. 


Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower) , Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis amica veritas." Artinya,"Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran."

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut.

Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.***   

Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis
Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.

Sumber : http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=2185.60;wap2

Fenomena tentang benua atlantis yang hilang

Posted at  16.32  |  in  wawasan umum  |  Read More»


                                 Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D. 

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis. 


Penelitian mutakhir yang dila kukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia



Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. 


Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower) , Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis amica veritas." Artinya,"Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran."

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut.

Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.***   

Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis
Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.

Sumber : http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=2185.60;wap2

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 16.32

3 Desember 2012


Kisah Prabu Siliwangi sangat dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja Pajajaran. Salah satu naskah kuno yang menjelaskan tentang perjalanan Prabu Siliwangi adalah kitab Suwasit. Kitab tersebut berisi 22 bab perjalanan Prabu Siliwangi dimulai dari ayahnya, Prabu Anggararang Raja Kerajaan Gajah. Setelah Prabu Anggararang merasa puteranya layak memangku jabatan raja, akhirnya kerajaan diserahkan kepada Pangeran Pamanah Rasa (sebelum bergelar Siliwangi).


Mengenai nama Siliwangi, dijelaskan bahwa nama tersebut adalah gelar setelah Pangeran Pamanah Rasa masuk Islam sebagai salah satu syarat mempersunting murid Syaikh Quro, yakni Nyi Ratu Subanglarang. Dari isteri ketiga ini, kemudian melahirkan Kian Santang yang bergelar Pangeran Cakrabuana di Cirebon dan Rara Santang, ibunda Sunan Gunung Jati.

Bersamaan dengan luasnya wilayah Gajah, kemudian Prabu Siliwangi menciptakan senjata Kujang, berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di tangkainya. Senjata tersebut kemudian menjadi lambang Jawa Barat. Nama kerajaan Gajah pun diganti menjadi kerajaan Pajajaran, karena menjajarkan (menggabung) kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih. Kisah dalam Kitab Suwasit diakhiri dengan mokhsa (menghilang) dan dipindahkannya kerajaan Pajajaran ke alam Gaib bersama Harimau Putih.

Pada kitab yang sudah diterbitkan oleh Jelajah Nusa, dikisahkan dalam bab keempat bahwa setelah menjadi kerajaan Gajah, Pangeran Pamanah Rasa melakukan pengembaraan hingga di sebuah hutan di wilayah Majalengka. Ketika hendak meminum air dari curug (air terjun), Pangeran Pamanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih sehingga terjadi pertarungan hebat hingga setengah hari. Namun berkat kesaktian Pangeran Pamanah Rasa, siluman Harimau itu bisa dikalahkan dan tunduk padanya.

Kitab yang diterbitkan dengan sambutan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kemudian mengisahkan bahwa Harimau Putih berubah wujud menjadi manusia untuk mendampingi pengembaraan Pangeran Pamanah Rasa hingga menaklukkan kerajaan Galuh dengan bantuan Harimauu Putih. Bahkan disebutkan, ketika terjadi penyerangan oleh kerajaan Mongol (mungkin masa Kubilai Khan), kerajaan Gajah dibantu pasukan Harimau Putih.

Sekilas cerita sejarah prabu siliwangi

Posted at  02.56  |  in  wawasan umum  |  Read More»


Kisah Prabu Siliwangi sangat dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja Pajajaran. Salah satu naskah kuno yang menjelaskan tentang perjalanan Prabu Siliwangi adalah kitab Suwasit. Kitab tersebut berisi 22 bab perjalanan Prabu Siliwangi dimulai dari ayahnya, Prabu Anggararang Raja Kerajaan Gajah. Setelah Prabu Anggararang merasa puteranya layak memangku jabatan raja, akhirnya kerajaan diserahkan kepada Pangeran Pamanah Rasa (sebelum bergelar Siliwangi).


Mengenai nama Siliwangi, dijelaskan bahwa nama tersebut adalah gelar setelah Pangeran Pamanah Rasa masuk Islam sebagai salah satu syarat mempersunting murid Syaikh Quro, yakni Nyi Ratu Subanglarang. Dari isteri ketiga ini, kemudian melahirkan Kian Santang yang bergelar Pangeran Cakrabuana di Cirebon dan Rara Santang, ibunda Sunan Gunung Jati.

Bersamaan dengan luasnya wilayah Gajah, kemudian Prabu Siliwangi menciptakan senjata Kujang, berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di tangkainya. Senjata tersebut kemudian menjadi lambang Jawa Barat. Nama kerajaan Gajah pun diganti menjadi kerajaan Pajajaran, karena menjajarkan (menggabung) kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih. Kisah dalam Kitab Suwasit diakhiri dengan mokhsa (menghilang) dan dipindahkannya kerajaan Pajajaran ke alam Gaib bersama Harimau Putih.

Pada kitab yang sudah diterbitkan oleh Jelajah Nusa, dikisahkan dalam bab keempat bahwa setelah menjadi kerajaan Gajah, Pangeran Pamanah Rasa melakukan pengembaraan hingga di sebuah hutan di wilayah Majalengka. Ketika hendak meminum air dari curug (air terjun), Pangeran Pamanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih sehingga terjadi pertarungan hebat hingga setengah hari. Namun berkat kesaktian Pangeran Pamanah Rasa, siluman Harimau itu bisa dikalahkan dan tunduk padanya.

Kitab yang diterbitkan dengan sambutan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kemudian mengisahkan bahwa Harimau Putih berubah wujud menjadi manusia untuk mendampingi pengembaraan Pangeran Pamanah Rasa hingga menaklukkan kerajaan Galuh dengan bantuan Harimauu Putih. Bahkan disebutkan, ketika terjadi penyerangan oleh kerajaan Mongol (mungkin masa Kubilai Khan), kerajaan Gajah dibantu pasukan Harimau Putih.

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 02.56

Menurut cerita Pantun Bogor,Palabuhan Ratu didirikan oleh Nyai Ratu Pu'un Purnama Sari.atau nyai Ratu Purnama Sari Putri Pertama Prabu Sedah Siliwangi dari Istrinya yang ke tujuh, yang saat itu Prabu Sedah Nusia Mulya bertahta di Pakuan Pajajaran Tengah.

Yang dimaksud Pajajaran tengah menurut Pantun Bogor,yaitu wIlayah antara Bogor Cianjur Sukabumi dan Pelabuan Ratu daerah itu disebut Pajajaran Tengah.karena menurut cerita Pajajaran terdiri atas 5 bagian,akan tetapi bagian bagianya lainya biarlah kita tinggalkan yg penting Pajajaran tengah ini.

Sebetulnya tidak ada niat Ratu Purnama Sari mendirikan Pelabuhan Ratu,ini hanya secara kebetulan saja.
Ketika Pajajaran atau Bogor diserbu oleh tentara Sarosoan Banten yg bergabung Cirebon dan Demak, Pajajaran jatuh pada serangan yang ketiga kalinya,pada waktu itu Prabu Sedah dengan semua orang dari Pajajaran tengah mundur ke selatan.maksud nya hendak menyebrang ke Nusa Larang yg sekarang disebut Pulau Krismas,akan tetapi mereka terpencar,ada yang ikut dengan Prabu Sedah dan ada pula yang ikut dengan Rombongan Nyai Ratu Purnama Sari.

Dan pada saat itu Prabu Sedah hanya sampai ke Leuweung Denuh ( Tegal Buleud ) sekarang Daerah Jampang,karena terhalang Badai besar.
Diantaranya pada waktu itu sampai ke Daerah Palabuhan Ratu sekarang,yaitu Nyai Ratu Purnama Sari bersama Suaminya Raden Kumbang Bagus Setra yg belum lama mereka menikah,dan ikut pula seorang Puragabaya ( Pengawal ) yg bernama Rakean Kalang Sunda,seorang Pengawal yg sangat Sakti,menurut cerita dia murid Satu2nya Sabda Palon.

Sebelumnya Ratu Purnama Sari pernah di pinang oleh salah satu Mantri Majeti Pajajaran yg bernama Jaya Antea,namun oleh Ratu Purnama Sari di tolak,ahirnya Jaya Antea meninggalkan Pajajaran.
Rombongan Ratu purnama Sari dalam perjalanan ke Pengungsian berpapasan dengan Jaya Antea akhirnya timbulah perkelahian antara Kumbang Bagus Setra dengan Jaya Antea,dalam perkelahian ini Kumbang Bagus Setra terperosok ke jurang dan meninggal Dunia di Darah Bantar Gadung sebelum Pelabuan Ratu.

Jaya Antea terus mengejar Rombongan Ratu Purnama Sari yang saat itu Putri Purnama Sari dalam keadaan Hamil dari Raden Kumbang Bagus Setra,pengejaran ini sampai ke Daerah Bagbagan Sekarang.
Tanpa di sangka dalam keadaan kesulitan,Nyai Putri yang sedang di kejar kejar Jaya Antea,tiba pula disana yaitu Rakean Kalang Sunda yang telah mendapat perintah dari Prabu Sedah bahwa Nyai Putri harus di selamatkan,dengan pendek kata rambut selembar darah satu tetes sangat menitipkan kepada Rakean Kalang Sunda.

Terjadilah pertengkaran jaya antea dgn rakean kalang sunda, dan akhirnya terjadi perkelahian, jaya antea harus mengakui kesaktian rakean kalang sunda, akhirnya dia dilemparkan ke laut, dan menurut cerita jaya antea ngahiyang di goa lalay (rawa kalong) menjadi bajul bodas (buaya putih) dan tempat perkelahian antara jaya antea dengan rakean kalang sunda dinamai sekarang gunung jayanti adanya di daerah bagbagan, mungkin diambil dari nama jaya antea. Akhirnya nyai ratu purnama sari menyeberang ke sebelah selatan cimandiri disertai rakean kalang sunda, disanalah ia membuat sebuah kampung yang disebut babakan cidadap.

Babakan cidadap ini bukanlah yang sekarang kampung cidadap loji, daerah bagbagan pelabuhan ratu, atau bojong kopo, melainkan cidadap diantara cimandiri degnan bekas sungai cinyocok atau sekarang kira2 kampung mariuk sampai ke babakan lebu pelabuhan ratu, sekarang sungai cidadap sudah menjadi daratan, penuh dengan rumah-rumah dan hulu sungai cidadap tidak jauh, kira2 sumber loa sekarang. Babakan sumber loa yang didirikan oleh nyai ratu putri purnama sari bersama rakean kalang sunda kemudian menjadi kampung besar, banyak orang-orang berdatangan dari mana-mana. Dan akhirnya atas kesepakatan penduduk, palabuhan nyai ratu yg artinya tempat berlabuhnya ratu. Nyai ratu purnama sari diangkat menjadi kepala kampung atau pu'un (bhs sunda) dengan gelar nyai pu'un purnama sari, arti pu'un disini sama saja seperti di baduy, di kanekes yg artinya kepala suku dan kampung ini bertambah besar. Orang2 berdatangan dari mana-mana, maka disebut dari palabuhan nyai ratu, dan sekarang palabuhan ratu. Palabuhan nyai ratu bertambah ramai akhirnya menjadi sebuah bandar yg besar dan sering dikunjungi perahu layar asing khususnya cina. Seperti telah dikatakan diatas nyai pu'un purnama sari sdg mengandung dan setelah kampung itu selesai maka lahirlah seorang putri yg diberi nama nyai putri mayang sari pamulangan. Dan menurut cerita setelah ibu dan anak itu bertapa digunung winarum dan sampai ngahiyang dr tempat tapa nya yg skr sering di ziarahi yaitu karang hawu. Mereka diberi kuasa sama Yang Maha Kuasa, ibunya nyai ratu purnama sari menjadi ratu laut kidul dengan sebutan ratu laut selatan atau ibu ratu. Setelah itu anaknya mayang sari diangkat menjadi ratu basisir kidul (pantai selatan dgn gelar ratu mayang sagara). Dan ibu dan anak ini diangkat alam menjadi 2 ratu (ratu loro) dgn sebutan umum nyai loro kidul (lain lg dgn roro), yang mempunyai kekuasaan dari timur pantai selatan sampai barat pantai selatan, itulah kekuasaan ratu mayang sagara sbg ratu pantai selatan. Lalu apa sebabnya palabuhan ratu sekarang bukan di cidadap, muara cimandiri? Sebab setelah kampung itu ramai kepemimpinan diserahkan kepada ketua yg dipercayainya, dan beliau pergi bersama anaknya mayang sari kesebuah tempat yg bernama kiara papak (skr karang papak 1 km dr karang hawu, jaraknya tidak jauh beda antara parang kusumo-parang tritis). Setelah pindah ke kiara papak, nyai ratu purnama sari bersama anaknya sering bertapa di gunung winarum, sebelum gunung tersebut di bagi dua sama jalan,yang sekarang disebut PANGJARAHAN IBU RATU KIDUL Karang Hawu.

Setelah ditinggal Pu'un Purnama Sari,Kampung yang ditinggalkan menjadi sepi maka oleh Kokolot Kampung di pindahkan ke dekat Palelangan Ikan sekarang, dan sekarang jadi kota Kabupaten Sukabumi.
Sampai sekarang Palabuhan Ratu tetap Palabu,jadi maksudnya Pelabuhan Ratu itu asal sebutan Penduduk kampung Ci Dadap yang datang dari mana-mana yaitu tempat berlabuhnya Nyai Ratu purnamaSari.
Bila dihubungkan dengan tahun Masehi, Jatuhnya Pajajaran ( Pajajaran Runtag ) pada th 1579 Masehi, tidak akan jauh bedanya dengan waktu dalam cerita ini. Hanya kalau kita perhatikan jatuh nya Pajajaran pada Jaman BAHLA CAI SAGARA KUMPUL hal itu entah merupakan CANDRA SANGKALA contoh SURYA SANGKALA hanya yg jelas masa BAHLA CAI SAGARA NGUMPUL
Sekian riwayat PALABUHAN RATU. Nyambung ke LEBAK CAWENE.

Di ceritakan oleh:
KI NAGA WIRU Sesepuh Sunda LEBAK CAWENE.

legenda nyi mas ratu raras tembang sakti

Posted at  02.54  |  in  wawasan spiritual  |  Read More»


Menurut cerita Pantun Bogor,Palabuhan Ratu didirikan oleh Nyai Ratu Pu'un Purnama Sari.atau nyai Ratu Purnama Sari Putri Pertama Prabu Sedah Siliwangi dari Istrinya yang ke tujuh, yang saat itu Prabu Sedah Nusia Mulya bertahta di Pakuan Pajajaran Tengah.

Yang dimaksud Pajajaran tengah menurut Pantun Bogor,yaitu wIlayah antara Bogor Cianjur Sukabumi dan Pelabuan Ratu daerah itu disebut Pajajaran Tengah.karena menurut cerita Pajajaran terdiri atas 5 bagian,akan tetapi bagian bagianya lainya biarlah kita tinggalkan yg penting Pajajaran tengah ini.

Sebetulnya tidak ada niat Ratu Purnama Sari mendirikan Pelabuhan Ratu,ini hanya secara kebetulan saja.
Ketika Pajajaran atau Bogor diserbu oleh tentara Sarosoan Banten yg bergabung Cirebon dan Demak, Pajajaran jatuh pada serangan yang ketiga kalinya,pada waktu itu Prabu Sedah dengan semua orang dari Pajajaran tengah mundur ke selatan.maksud nya hendak menyebrang ke Nusa Larang yg sekarang disebut Pulau Krismas,akan tetapi mereka terpencar,ada yang ikut dengan Prabu Sedah dan ada pula yang ikut dengan Rombongan Nyai Ratu Purnama Sari.

Dan pada saat itu Prabu Sedah hanya sampai ke Leuweung Denuh ( Tegal Buleud ) sekarang Daerah Jampang,karena terhalang Badai besar.
Diantaranya pada waktu itu sampai ke Daerah Palabuhan Ratu sekarang,yaitu Nyai Ratu Purnama Sari bersama Suaminya Raden Kumbang Bagus Setra yg belum lama mereka menikah,dan ikut pula seorang Puragabaya ( Pengawal ) yg bernama Rakean Kalang Sunda,seorang Pengawal yg sangat Sakti,menurut cerita dia murid Satu2nya Sabda Palon.

Sebelumnya Ratu Purnama Sari pernah di pinang oleh salah satu Mantri Majeti Pajajaran yg bernama Jaya Antea,namun oleh Ratu Purnama Sari di tolak,ahirnya Jaya Antea meninggalkan Pajajaran.
Rombongan Ratu purnama Sari dalam perjalanan ke Pengungsian berpapasan dengan Jaya Antea akhirnya timbulah perkelahian antara Kumbang Bagus Setra dengan Jaya Antea,dalam perkelahian ini Kumbang Bagus Setra terperosok ke jurang dan meninggal Dunia di Darah Bantar Gadung sebelum Pelabuan Ratu.

Jaya Antea terus mengejar Rombongan Ratu Purnama Sari yang saat itu Putri Purnama Sari dalam keadaan Hamil dari Raden Kumbang Bagus Setra,pengejaran ini sampai ke Daerah Bagbagan Sekarang.
Tanpa di sangka dalam keadaan kesulitan,Nyai Putri yang sedang di kejar kejar Jaya Antea,tiba pula disana yaitu Rakean Kalang Sunda yang telah mendapat perintah dari Prabu Sedah bahwa Nyai Putri harus di selamatkan,dengan pendek kata rambut selembar darah satu tetes sangat menitipkan kepada Rakean Kalang Sunda.

Terjadilah pertengkaran jaya antea dgn rakean kalang sunda, dan akhirnya terjadi perkelahian, jaya antea harus mengakui kesaktian rakean kalang sunda, akhirnya dia dilemparkan ke laut, dan menurut cerita jaya antea ngahiyang di goa lalay (rawa kalong) menjadi bajul bodas (buaya putih) dan tempat perkelahian antara jaya antea dengan rakean kalang sunda dinamai sekarang gunung jayanti adanya di daerah bagbagan, mungkin diambil dari nama jaya antea. Akhirnya nyai ratu purnama sari menyeberang ke sebelah selatan cimandiri disertai rakean kalang sunda, disanalah ia membuat sebuah kampung yang disebut babakan cidadap.

Babakan cidadap ini bukanlah yang sekarang kampung cidadap loji, daerah bagbagan pelabuhan ratu, atau bojong kopo, melainkan cidadap diantara cimandiri degnan bekas sungai cinyocok atau sekarang kira2 kampung mariuk sampai ke babakan lebu pelabuhan ratu, sekarang sungai cidadap sudah menjadi daratan, penuh dengan rumah-rumah dan hulu sungai cidadap tidak jauh, kira2 sumber loa sekarang. Babakan sumber loa yang didirikan oleh nyai ratu putri purnama sari bersama rakean kalang sunda kemudian menjadi kampung besar, banyak orang-orang berdatangan dari mana-mana. Dan akhirnya atas kesepakatan penduduk, palabuhan nyai ratu yg artinya tempat berlabuhnya ratu. Nyai ratu purnama sari diangkat menjadi kepala kampung atau pu'un (bhs sunda) dengan gelar nyai pu'un purnama sari, arti pu'un disini sama saja seperti di baduy, di kanekes yg artinya kepala suku dan kampung ini bertambah besar. Orang2 berdatangan dari mana-mana, maka disebut dari palabuhan nyai ratu, dan sekarang palabuhan ratu. Palabuhan nyai ratu bertambah ramai akhirnya menjadi sebuah bandar yg besar dan sering dikunjungi perahu layar asing khususnya cina. Seperti telah dikatakan diatas nyai pu'un purnama sari sdg mengandung dan setelah kampung itu selesai maka lahirlah seorang putri yg diberi nama nyai putri mayang sari pamulangan. Dan menurut cerita setelah ibu dan anak itu bertapa digunung winarum dan sampai ngahiyang dr tempat tapa nya yg skr sering di ziarahi yaitu karang hawu. Mereka diberi kuasa sama Yang Maha Kuasa, ibunya nyai ratu purnama sari menjadi ratu laut kidul dengan sebutan ratu laut selatan atau ibu ratu. Setelah itu anaknya mayang sari diangkat menjadi ratu basisir kidul (pantai selatan dgn gelar ratu mayang sagara). Dan ibu dan anak ini diangkat alam menjadi 2 ratu (ratu loro) dgn sebutan umum nyai loro kidul (lain lg dgn roro), yang mempunyai kekuasaan dari timur pantai selatan sampai barat pantai selatan, itulah kekuasaan ratu mayang sagara sbg ratu pantai selatan. Lalu apa sebabnya palabuhan ratu sekarang bukan di cidadap, muara cimandiri? Sebab setelah kampung itu ramai kepemimpinan diserahkan kepada ketua yg dipercayainya, dan beliau pergi bersama anaknya mayang sari kesebuah tempat yg bernama kiara papak (skr karang papak 1 km dr karang hawu, jaraknya tidak jauh beda antara parang kusumo-parang tritis). Setelah pindah ke kiara papak, nyai ratu purnama sari bersama anaknya sering bertapa di gunung winarum, sebelum gunung tersebut di bagi dua sama jalan,yang sekarang disebut PANGJARAHAN IBU RATU KIDUL Karang Hawu.

Setelah ditinggal Pu'un Purnama Sari,Kampung yang ditinggalkan menjadi sepi maka oleh Kokolot Kampung di pindahkan ke dekat Palelangan Ikan sekarang, dan sekarang jadi kota Kabupaten Sukabumi.
Sampai sekarang Palabuhan Ratu tetap Palabu,jadi maksudnya Pelabuhan Ratu itu asal sebutan Penduduk kampung Ci Dadap yang datang dari mana-mana yaitu tempat berlabuhnya Nyai Ratu purnamaSari.
Bila dihubungkan dengan tahun Masehi, Jatuhnya Pajajaran ( Pajajaran Runtag ) pada th 1579 Masehi, tidak akan jauh bedanya dengan waktu dalam cerita ini. Hanya kalau kita perhatikan jatuh nya Pajajaran pada Jaman BAHLA CAI SAGARA KUMPUL hal itu entah merupakan CANDRA SANGKALA contoh SURYA SANGKALA hanya yg jelas masa BAHLA CAI SAGARA NGUMPUL
Sekian riwayat PALABUHAN RATU. Nyambung ke LEBAK CAWENE.

Di ceritakan oleh:
KI NAGA WIRU Sesepuh Sunda LEBAK CAWENE.

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 02.54

Setelah cerita yang terdahulu menceritakan berdirinya Kampung Pelabuhan Ratu dan diangkatnya Ibu Ratu Purnama Sari sebagai Ratu Laut Selatan dan Ratu Mayang Sagara menjadi Ratu pantai selatan    (Furi Karancang Kancana karang hawu Pelabuahan Ratu) Ibu dan anak sebagai Penguasa Laut dan pantai selatan yaitu mempunyai sebutan Loro  (dua) Kidul (selatan).

Ratu Mayang Sagara yang kecilnya bernama Rara Panas Mayang Nagasari Pamulangan dan setelah diangkat menjadi Ratu Basisir (pantai) contohnya adalah cawene (suci) yaitu seorang gadis yang masih suci  bertapa menyertai ibunya di Gunung Winarum sekarang Pangjarahan Karang Hawu sampai akhirnya ngahiyang menyatu dengan Alam dan meninggalkan ciri kata bahasa Sunda lebah yaitu menunjukan tempat. Jadi Karang Hawu hanya sebatas Lebah Cawene.

Baiklah kita lanjutkan kepada cerita Putri Bungsu Prabu Sedah Nusia Mulya Siliwangi yang memisahkan diri tidak ikut dengan rombongan yaitu Putri Gandrung Arum adiknya Putri Purnama Sari.
Setelah melihat pelangi berlapis 7 yang datangnya dari Laut Selatan melengkung kesebuah hutan. Putri Gandrung Arum meminta izin kepada ayahandanya untuk bertapa di tempat itu.
Dikatakan Pelangi berlapis tujuh itu bukanya berwarna 7, melainkan ada 7 Pelangi. Melihat itu Nyai Putri tertarik hatinya dan memutuskan untuk tidak terus ikut dengan ayahnya.

Nyai Ratu meminta kepada ayahnya, tapanya ini supaya ditemani oleh 7 orang gadis yang masih suci dan harus mirip denganya dan semuanya harus mempunyai tanda ( tahi lalat ) sebesar butir kacang karena Putri Gandrung Arum mempunyai tanda itu.

Singkat cerita diizinkannya permohonan Nyai Gandrung Arum itu dan  Prabu Sedah  berkata :"Baiklah Nyai permintaanmu akan aku kabulkan karena yang akan menetap disini semuanya cawene (perawan/masih suci) maka tempat ini akan kuberi nama Lebah Cawene". Itulah pertama keluar kata lebah cawene (tempat beberapa orang yang masih suci). Marilah kita kembali kepada salah satu bagian dalam cerita "Pajajaran Sirem Papan" yaitu "Kalang Sunda Makalangan".

Ketika Rakean Kalang Sunda ikut membantu mendirikan kampung "Pelabuhan Ratu", ia minta izin sama pu'un Purnama Sari untuk meneruskan perjalanannya menyusul rombongan Prabu Sedah akan tetapi apa yang terjadi, dia kesasar (tersesat) sebab perjalanannya dimalam hari. Ia melihat seekor kunang-kunang yang sangat sukar dikejarny apalagi sampai tertangkap. Sewaktu Rakean Kalang Sunda mengejar kunang-kunang tersebut terbang dan setiap Rakean Kalang Sunda berhenti mengejar kunang-kunang tersebut menghampirinya.

Seorang Rakean Kalang Sunda yang begitu saktinya tidak bisa menangkap kunang-kunang tersebut. Akhirnya tibalah Rakean Kalang Sunda di Lebah Cawene, waktu itu lebah cawene masih hutan. Orang-orang belum tahu Lebah Cawene, hanya Prabu Sedah yang tahu. Bertemulah ia dengsn Nyai Ratu Gandrung Arum yang sedang niat bertapa. Ia tidak sengaja bertemu karena tidak bermaksud mencari Nyai Ratu Gandrung Arum. Ia pun disambut oleh Nyai Ratu Gandrung Arum. Rakean Kalang Sunda merasa heran mengapa Nyai Ratu Gandrung Arum ada disitu. Ia memang tidak mengikuti rombongan Raja. Ia beserta Nyai Putri Purnama Sari, ia mengambil jalan lain dan tersesat sampai disana. Kata Rakean Kalang Sunda "baiklah kalau begitu, tempat ini akan kuberi pagar", maka sebagai pagar ditanamnya 9 buah pohon beringin, kemudian di tanamnya pula pohon kiara bersilang (nyakra bumi) untuk menyesatkan yang mencari. Katanya pula "supaya tidak terlalu mudah, dan terlalu banyak orang yang mengetahui tempat kamu sekalian bertapa & tinggal, akan kuberi pagar pula dengan ajian awun-awun si teja wulung.

Bagaimanapun juga terangnya waktu siang akan selalu gelap karena diselimuti kabut (halimun). Nyai Putri Gandrung Arum mengucapkan terima kasih kepada Rakean Kalang Sunda. Kata Nyai Ratu Gandrung Arum " Barang siapa ingin tahu Lebah dan Lebak Cawene haruslah yang berhak menerima waris saja, sedangkan yang hak menerima waris hanyalah seorang Penggembala disertai Pengiringnya yaitu anak berjenggot, dialah yang akan mengetahui Lebak Cawene.

Lalu kata Nyai Putri " Meskipun dia itu seorang Ahli waris bila ingin masuk ke Lebah dan Lebak Cawene tidak melalui pintu Gerbang yang sudah ditentukan akan tersesat atau meninggal bila tidak mempunyai satu muhung ( mantra ), ibarat visa mau masuk ke Luar Negeri.
Dan anirnya Lebak Cawene pada mencari, tapi semuanya tidak ada yang berhasil. Anehnya semua yang mencari Lebak Cawene ini meninggal sepulang dari pencarian dan yang paling aneh lagi semua meninggal pada hari kamis.

Pernah Lebak Cawene ini ditulis secara bersambung memakai Bahasa Sunda/ Indonesia oleh seorang Budayawan Sunda asal Sukabumi di Koran Radar Sukabumi / Radar Bogor yaitu Bapak Anis Jati Sunda. Dengan judul Misteri Lebak Cawene. Pada tanggal 2 Nov 1997 hari Kamis  Lebak Cawene bisa di taklukan oleh Pembawa cerita ini, yang sekarang menjadi Kasepuhan Adat Sunda Lebak Cawene Ki Naga Wiru bersama Raden Ganda Rasita bekas Penilik Kebudayaan Cisolok Pelabuan Ratu.

Sumber: Ki Naga Wiru (sesepuh lebak cawene)

Karatuan tengah laut kidul

Posted at  02.53  |  in  wawasan umum  |  Read More»


Setelah cerita yang terdahulu menceritakan berdirinya Kampung Pelabuhan Ratu dan diangkatnya Ibu Ratu Purnama Sari sebagai Ratu Laut Selatan dan Ratu Mayang Sagara menjadi Ratu pantai selatan    (Furi Karancang Kancana karang hawu Pelabuahan Ratu) Ibu dan anak sebagai Penguasa Laut dan pantai selatan yaitu mempunyai sebutan Loro  (dua) Kidul (selatan).

Ratu Mayang Sagara yang kecilnya bernama Rara Panas Mayang Nagasari Pamulangan dan setelah diangkat menjadi Ratu Basisir (pantai) contohnya adalah cawene (suci) yaitu seorang gadis yang masih suci  bertapa menyertai ibunya di Gunung Winarum sekarang Pangjarahan Karang Hawu sampai akhirnya ngahiyang menyatu dengan Alam dan meninggalkan ciri kata bahasa Sunda lebah yaitu menunjukan tempat. Jadi Karang Hawu hanya sebatas Lebah Cawene.

Baiklah kita lanjutkan kepada cerita Putri Bungsu Prabu Sedah Nusia Mulya Siliwangi yang memisahkan diri tidak ikut dengan rombongan yaitu Putri Gandrung Arum adiknya Putri Purnama Sari.
Setelah melihat pelangi berlapis 7 yang datangnya dari Laut Selatan melengkung kesebuah hutan. Putri Gandrung Arum meminta izin kepada ayahandanya untuk bertapa di tempat itu.
Dikatakan Pelangi berlapis tujuh itu bukanya berwarna 7, melainkan ada 7 Pelangi. Melihat itu Nyai Putri tertarik hatinya dan memutuskan untuk tidak terus ikut dengan ayahnya.

Nyai Ratu meminta kepada ayahnya, tapanya ini supaya ditemani oleh 7 orang gadis yang masih suci dan harus mirip denganya dan semuanya harus mempunyai tanda ( tahi lalat ) sebesar butir kacang karena Putri Gandrung Arum mempunyai tanda itu.

Singkat cerita diizinkannya permohonan Nyai Gandrung Arum itu dan  Prabu Sedah  berkata :"Baiklah Nyai permintaanmu akan aku kabulkan karena yang akan menetap disini semuanya cawene (perawan/masih suci) maka tempat ini akan kuberi nama Lebah Cawene". Itulah pertama keluar kata lebah cawene (tempat beberapa orang yang masih suci). Marilah kita kembali kepada salah satu bagian dalam cerita "Pajajaran Sirem Papan" yaitu "Kalang Sunda Makalangan".

Ketika Rakean Kalang Sunda ikut membantu mendirikan kampung "Pelabuhan Ratu", ia minta izin sama pu'un Purnama Sari untuk meneruskan perjalanannya menyusul rombongan Prabu Sedah akan tetapi apa yang terjadi, dia kesasar (tersesat) sebab perjalanannya dimalam hari. Ia melihat seekor kunang-kunang yang sangat sukar dikejarny apalagi sampai tertangkap. Sewaktu Rakean Kalang Sunda mengejar kunang-kunang tersebut terbang dan setiap Rakean Kalang Sunda berhenti mengejar kunang-kunang tersebut menghampirinya.

Seorang Rakean Kalang Sunda yang begitu saktinya tidak bisa menangkap kunang-kunang tersebut. Akhirnya tibalah Rakean Kalang Sunda di Lebah Cawene, waktu itu lebah cawene masih hutan. Orang-orang belum tahu Lebah Cawene, hanya Prabu Sedah yang tahu. Bertemulah ia dengsn Nyai Ratu Gandrung Arum yang sedang niat bertapa. Ia tidak sengaja bertemu karena tidak bermaksud mencari Nyai Ratu Gandrung Arum. Ia pun disambut oleh Nyai Ratu Gandrung Arum. Rakean Kalang Sunda merasa heran mengapa Nyai Ratu Gandrung Arum ada disitu. Ia memang tidak mengikuti rombongan Raja. Ia beserta Nyai Putri Purnama Sari, ia mengambil jalan lain dan tersesat sampai disana. Kata Rakean Kalang Sunda "baiklah kalau begitu, tempat ini akan kuberi pagar", maka sebagai pagar ditanamnya 9 buah pohon beringin, kemudian di tanamnya pula pohon kiara bersilang (nyakra bumi) untuk menyesatkan yang mencari. Katanya pula "supaya tidak terlalu mudah, dan terlalu banyak orang yang mengetahui tempat kamu sekalian bertapa & tinggal, akan kuberi pagar pula dengan ajian awun-awun si teja wulung.

Bagaimanapun juga terangnya waktu siang akan selalu gelap karena diselimuti kabut (halimun). Nyai Putri Gandrung Arum mengucapkan terima kasih kepada Rakean Kalang Sunda. Kata Nyai Ratu Gandrung Arum " Barang siapa ingin tahu Lebah dan Lebak Cawene haruslah yang berhak menerima waris saja, sedangkan yang hak menerima waris hanyalah seorang Penggembala disertai Pengiringnya yaitu anak berjenggot, dialah yang akan mengetahui Lebak Cawene.

Lalu kata Nyai Putri " Meskipun dia itu seorang Ahli waris bila ingin masuk ke Lebah dan Lebak Cawene tidak melalui pintu Gerbang yang sudah ditentukan akan tersesat atau meninggal bila tidak mempunyai satu muhung ( mantra ), ibarat visa mau masuk ke Luar Negeri.
Dan anirnya Lebak Cawene pada mencari, tapi semuanya tidak ada yang berhasil. Anehnya semua yang mencari Lebak Cawene ini meninggal sepulang dari pencarian dan yang paling aneh lagi semua meninggal pada hari kamis.

Pernah Lebak Cawene ini ditulis secara bersambung memakai Bahasa Sunda/ Indonesia oleh seorang Budayawan Sunda asal Sukabumi di Koran Radar Sukabumi / Radar Bogor yaitu Bapak Anis Jati Sunda. Dengan judul Misteri Lebak Cawene. Pada tanggal 2 Nov 1997 hari Kamis  Lebak Cawene bisa di taklukan oleh Pembawa cerita ini, yang sekarang menjadi Kasepuhan Adat Sunda Lebak Cawene Ki Naga Wiru bersama Raden Ganda Rasita bekas Penilik Kebudayaan Cisolok Pelabuan Ratu.

Sumber: Ki Naga Wiru (sesepuh lebak cawene)

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 02.53
About Us-Privacy Policy-Contact us
Copyright © 2013 Wawasan spiritual dan blogging. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top