3 Desember 2012

Ringkasan cerita

Di hutan Banjar hidup seekor babi putih yang bertapa terus-menerus selama puluhan tahun. Ia bertapa karena ingin mempunyai seorang anak perempuan berupa manusia. Pada suatu waktu babi hutan itu pergi ke sebuah lapangan dekat Sungai Citanduy. Di situ ia menemukan air pada sebuah batok kelapa muda. Karena merasa sangat haus, ia minum air itu. Ternyata air itu air seni Prabu Ratu Galuh. Sehingga tak lama kemudian, babi putih itu mengandung.

Sesudah sampai waktunya ia melahirkan seorang anak perempuan wujud manusia yang
sangat cantik parasnya. Anak itu ada yang namainya Dayang Sumbi atau Nyai Rarasati.
Nyai Dayang Sumbi sesudah besar, ia menanyakan siapa ayahnya kepada ibunya. Semula pertanyaan itu tidak dijawab, tetapi karena ditanyakan berulang-ulang akhirnya diberi tahu juga, yaitu Prabu Ratu Galuh. Nyai Dayang Sumbi bermaksud menghadap Prabu Ratu Galuh, ayahnya.

Dalam perjalanan ke Karang Kamulyan, kraton tempat tinggal ayahnya, Nyai Dayang Sumbi diantar oleh ibunya. Akan tetapi, pada saat ia meloncat sungai Citanduy, ibunya, babi putih, mati seketika. Nyai Dayang Sumbi diakui anak oleh Prabu Ratu Galuh yang waktu itu sedang berada di Bojonglopang.

Nyai Dayang Sumbi ditempatkan oleh ayahnya di Bojonglopang. Ia dipertemukan dengan para tukang tenun dan disuruh belajar menenun kain. Dalam waktu singkat Nyai Dayang Sumbi telah pandai menenun kain. Segera ia diberi tempat tersendiri oleh ayahnya, berupa bangunan panggung yang tinggi (saung ranggon) di dalam hutan. Ia hanya ditemani oleh Belang Wiyungyang, seekor anjing.

Suara alat tenun Nyai Dayang Sumbi sangat menarik perhatian para penduduk di sekitar hutan tempat tinggalnya. Pada suatu hari ketika ia sedang asyik menenun, tiba-tiba alat tenunnya (teropong) jatuh. Karena merasa segan turun buat mengambil alat tenun yang jatuh, ia berbicara sendiri bahwa jika alat tenun itu ada yang mengambil,  mungkin yang mengambil akan dijadikan suami. Tak lama kemudian, si Belang Wiyungyang menyerahkan alat tenun yang jatuh. Nyai Dayang Sumbi kaget dan mengira bahwa anjing itu merupakan binatang jadian.

Sesudah duduk selama lima tahun di tempat itu,  Nyai Dayang Sumbi merasa penat sekali dan tertidurlah ia di tempat menenun. Posisi tidurnya memungkinkan kemaluannya tampak dari luar. Hal itu mendorong si Belang Wiyungyang timbul birahi dan menyetubuhinya. Akibatnya, Nyai Dayang Sumbi mengandung dan melahirka seorang anak laki-laki dan dinamai Sangkuriang.

Sangkuriang mempunyai kesenangan berburu. Dalam berburu itu ia ditemani oleh Belang Wiyungyang. Semua binatang di hutan-hutan tak ada yang berani melawan anjing Belang Wiyungyang. Lama kelamaan binatang di dalam hutan berkurang jumlahnya, bahkan hampir habis.

Singa, raja du kalangan binatang, bermusyawarah dengan sesamanya, membicarakan cara penangkapan anjing Belang Wiyungyang yang merusak keluarga mereka. Menteri Lingsang Parana (sero) mengusulkan dan berpendapat bahwa yang dapat mengalahkan anjing itu hanyalah si Pukang yang sedang bertapa di dalam gua di Gunung Ceremai. Akan tetapi, usaha itu dilaksanakan oleh Penggiling Bentik yang sanggup mengalahkan si Belang Wiyungyang, tidak dengan melawan Belang Wiyungyang, tetapi dengan cara mengganggu keluarga Sangkuriang.

Si Belang Wiyungyang mengetahui ada binatang yang bersembunyi di dalam rumahnya dan khawatir akan membunuh Nyai Dayang Sumbi. Sewaktu dibawa berburu oleh Sangkuriang. Belang Wiyungyang tidak bersungguh-sungguh menunaikan tugasnya. Sebentar-sebentar ia lari ke rumahnya, padahal binatang buruan semakin jarang. Sangkuriang marah terhadap Belang Wiyungyang sehingga anjing itu di tombak sampai mati. Badan anjing itu di kubur di situ, kecuali hatinya diambil dan dibawa pulang diserahkan kepada ibunya untuk dimasak.

Nyai Dayang Sumbi marah sekali terhadap Sangkuriang ketika diberi tahu bahwa hati yang dimasak itu adalah anjing si Belang Wiyungyang. Ia memburu Sangkuriang, lalu di pukul kepalanya dengan senduk (alat masak) sehingga terluka dan mengeluarkan darah. Sangkuriang merasa takut dan melarikan diri sambil menangis. Dalam pelariannya Sangkuriang sampai ke negara Siluman (makhluk halus).

Nyai Dayang Sumbi merasa menyesal telah memukul anaknya. Kini ia tinggal sebatang kara. Kemudian ia pun pergi dari situ ke arah barat dengan maksud mencari anaknya. Di Gunung Halimun ia berjumpa dengan seorang pertapa, raja dari kalangan jin. Di tempat ini ia mendapat pelajaran berbagai macam ilmu. Atas petunjuk pendeta jin itu, Nyai Dayang Sumbi kembali lagi ke arah timur dari perjalanannya dan tibalah ia di daerah Ukur Bandung.

Di negara jin Sangkuriang bertemu dengan seorang pendeta berbentuk ular yang berasal dari Galuh juga. Di situ Sangkuriang diajari berbagai ilmu antara lain ilmu Tumbul Muda (ilmu yang memungkinkan pemiliknya ditaati oleh jin dan makhluk halus lainnya) dan ilmu Alam Kombala Geni (ilmu yang memungkinkan setan dan raksasa takluk dan tunduk kepada pemiliknya). Sangkuriang diberi gelar batara oleh pendeta itu dan disuruh melanjutkan perjalanan lagi.

Perjalanan Batara Sangkuriang sampai ke negara makhluk halus lain (siluman-siluman). Tanpa melalui peperangan seluruh makhluk di situ takluk dan tunduk kepadanya. Begitu pula sewaktu Batara Sangkuriang sampai ke negara raksasa dan setan, semua raksasa dan setan tunduk dan taat kepadanya. Jadi, bermacam-macam bangsa makhluk halus tunduk dan taat kepada Batara Sangkuriang. Bangsa manusia sendiri tidak ada yang menjadi pengikutnya sebab pada waktu itu jumlah manusia belum begitu banyak, baru ada 39 orang putra Ratu Galuh dan 27 orang putra Raja Pajajaran yang menjadi cikal bakal penduduk Pulau Jawa. Selanjutnya, ditambah oleh pendatang, yaitu orang Arab, Inggris, Malayu dan orang asing lainnya.

Batara Sangkuriang telah 39 tahun lamanya mengembara. Ia tiba di Banten, kemudian kembali ke arah timur dan sampailah di tanah Ukur, Bandung. Ia naik ke Gunung Bohong, di daerah Cimahi sekarang. Sesampainya di puncak gunung, ia menjumpai seorang wanita cantik. Ketika ditanya, ia mengaku sedang mengembara dan bernama Dewi Artati atau Rarasati. Batara Sangkuriang meminta agar wanita itu mau diperistri. Wanita itu diberi hadiah  cincin yang sebenarnya cincin itu pemberian Nyai Dayang Sumbi, ibu Sangkuriang, dengan janji bila cocok pada seorang wanita, dialah calon istrinya. Pada waktu dipakai oleh Dayang Sumbi cincin itu cocok sekali. Oleh karena itu, keduanya bergembira dan saling jatuh cinta, lalu mereka berkencan di situ. Kutu Batara Sangkuriang diambil oleh Rarasati, tetapi ternyata kepala Batara Sangkuriang botak dan teringatlah Rarasati bahwa Nyai Dayang Sumbi pacarnya itu, adalah anaknya sendiri.

Rarasati menyatakan penolakan terhadap Batara Sangkuriang, tetapi Batara Sangkuriang memaksanya. Untuk itu, Rarasati mengajukan syarat berupa permintaan agar Batara Sangkuriang membendung tanah Bandung dan Paregreg sehingga menjadi laut, kemudian agar dibuatkan perahu untuk berlayar. Pekerjaan itu harus diselesaikan Batara Sangkuriang selama satu malam.

Dengan bantuan pasukan makhluk halus dan raksasa, Batara Sangkuriang hampir dapat merampungkan pekerjaannya. Ketika Rarasati menyaksikan permintaannya hampir terkabul, dia menjadi takut. Segera ia memotong-motong kain boeh larang (kain putih suci), kemudian potongan-potongan kain itu dilemparkan ke sekeliling tempat itu. Keluarlah cahaya dari potongan kain itu sehingga keadaan menjadi seperti telah siang. Dengan kejadian itu, batalah perjanjian Batara Sangkuriang dengan Rarasati. Mereka tidak jadi menikah.

Rarasati membuka rahasia kepada Batara Sangkuriang. Rarasati mengaku anak kepada Batara Sangkuriang dan sebaliknya Sangkuriang mengaku ibu kepada Rarasati. Keduanya pulang kembali ke Galuh.

Cerita babad sangkuriang kesiangan

Posted at  03.03  |  in  wawasan umum  |  Read More»

Ringkasan cerita

Di hutan Banjar hidup seekor babi putih yang bertapa terus-menerus selama puluhan tahun. Ia bertapa karena ingin mempunyai seorang anak perempuan berupa manusia. Pada suatu waktu babi hutan itu pergi ke sebuah lapangan dekat Sungai Citanduy. Di situ ia menemukan air pada sebuah batok kelapa muda. Karena merasa sangat haus, ia minum air itu. Ternyata air itu air seni Prabu Ratu Galuh. Sehingga tak lama kemudian, babi putih itu mengandung.

Sesudah sampai waktunya ia melahirkan seorang anak perempuan wujud manusia yang
sangat cantik parasnya. Anak itu ada yang namainya Dayang Sumbi atau Nyai Rarasati.
Nyai Dayang Sumbi sesudah besar, ia menanyakan siapa ayahnya kepada ibunya. Semula pertanyaan itu tidak dijawab, tetapi karena ditanyakan berulang-ulang akhirnya diberi tahu juga, yaitu Prabu Ratu Galuh. Nyai Dayang Sumbi bermaksud menghadap Prabu Ratu Galuh, ayahnya.

Dalam perjalanan ke Karang Kamulyan, kraton tempat tinggal ayahnya, Nyai Dayang Sumbi diantar oleh ibunya. Akan tetapi, pada saat ia meloncat sungai Citanduy, ibunya, babi putih, mati seketika. Nyai Dayang Sumbi diakui anak oleh Prabu Ratu Galuh yang waktu itu sedang berada di Bojonglopang.

Nyai Dayang Sumbi ditempatkan oleh ayahnya di Bojonglopang. Ia dipertemukan dengan para tukang tenun dan disuruh belajar menenun kain. Dalam waktu singkat Nyai Dayang Sumbi telah pandai menenun kain. Segera ia diberi tempat tersendiri oleh ayahnya, berupa bangunan panggung yang tinggi (saung ranggon) di dalam hutan. Ia hanya ditemani oleh Belang Wiyungyang, seekor anjing.

Suara alat tenun Nyai Dayang Sumbi sangat menarik perhatian para penduduk di sekitar hutan tempat tinggalnya. Pada suatu hari ketika ia sedang asyik menenun, tiba-tiba alat tenunnya (teropong) jatuh. Karena merasa segan turun buat mengambil alat tenun yang jatuh, ia berbicara sendiri bahwa jika alat tenun itu ada yang mengambil,  mungkin yang mengambil akan dijadikan suami. Tak lama kemudian, si Belang Wiyungyang menyerahkan alat tenun yang jatuh. Nyai Dayang Sumbi kaget dan mengira bahwa anjing itu merupakan binatang jadian.

Sesudah duduk selama lima tahun di tempat itu,  Nyai Dayang Sumbi merasa penat sekali dan tertidurlah ia di tempat menenun. Posisi tidurnya memungkinkan kemaluannya tampak dari luar. Hal itu mendorong si Belang Wiyungyang timbul birahi dan menyetubuhinya. Akibatnya, Nyai Dayang Sumbi mengandung dan melahirka seorang anak laki-laki dan dinamai Sangkuriang.

Sangkuriang mempunyai kesenangan berburu. Dalam berburu itu ia ditemani oleh Belang Wiyungyang. Semua binatang di hutan-hutan tak ada yang berani melawan anjing Belang Wiyungyang. Lama kelamaan binatang di dalam hutan berkurang jumlahnya, bahkan hampir habis.

Singa, raja du kalangan binatang, bermusyawarah dengan sesamanya, membicarakan cara penangkapan anjing Belang Wiyungyang yang merusak keluarga mereka. Menteri Lingsang Parana (sero) mengusulkan dan berpendapat bahwa yang dapat mengalahkan anjing itu hanyalah si Pukang yang sedang bertapa di dalam gua di Gunung Ceremai. Akan tetapi, usaha itu dilaksanakan oleh Penggiling Bentik yang sanggup mengalahkan si Belang Wiyungyang, tidak dengan melawan Belang Wiyungyang, tetapi dengan cara mengganggu keluarga Sangkuriang.

Si Belang Wiyungyang mengetahui ada binatang yang bersembunyi di dalam rumahnya dan khawatir akan membunuh Nyai Dayang Sumbi. Sewaktu dibawa berburu oleh Sangkuriang. Belang Wiyungyang tidak bersungguh-sungguh menunaikan tugasnya. Sebentar-sebentar ia lari ke rumahnya, padahal binatang buruan semakin jarang. Sangkuriang marah terhadap Belang Wiyungyang sehingga anjing itu di tombak sampai mati. Badan anjing itu di kubur di situ, kecuali hatinya diambil dan dibawa pulang diserahkan kepada ibunya untuk dimasak.

Nyai Dayang Sumbi marah sekali terhadap Sangkuriang ketika diberi tahu bahwa hati yang dimasak itu adalah anjing si Belang Wiyungyang. Ia memburu Sangkuriang, lalu di pukul kepalanya dengan senduk (alat masak) sehingga terluka dan mengeluarkan darah. Sangkuriang merasa takut dan melarikan diri sambil menangis. Dalam pelariannya Sangkuriang sampai ke negara Siluman (makhluk halus).

Nyai Dayang Sumbi merasa menyesal telah memukul anaknya. Kini ia tinggal sebatang kara. Kemudian ia pun pergi dari situ ke arah barat dengan maksud mencari anaknya. Di Gunung Halimun ia berjumpa dengan seorang pertapa, raja dari kalangan jin. Di tempat ini ia mendapat pelajaran berbagai macam ilmu. Atas petunjuk pendeta jin itu, Nyai Dayang Sumbi kembali lagi ke arah timur dari perjalanannya dan tibalah ia di daerah Ukur Bandung.

Di negara jin Sangkuriang bertemu dengan seorang pendeta berbentuk ular yang berasal dari Galuh juga. Di situ Sangkuriang diajari berbagai ilmu antara lain ilmu Tumbul Muda (ilmu yang memungkinkan pemiliknya ditaati oleh jin dan makhluk halus lainnya) dan ilmu Alam Kombala Geni (ilmu yang memungkinkan setan dan raksasa takluk dan tunduk kepada pemiliknya). Sangkuriang diberi gelar batara oleh pendeta itu dan disuruh melanjutkan perjalanan lagi.

Perjalanan Batara Sangkuriang sampai ke negara makhluk halus lain (siluman-siluman). Tanpa melalui peperangan seluruh makhluk di situ takluk dan tunduk kepadanya. Begitu pula sewaktu Batara Sangkuriang sampai ke negara raksasa dan setan, semua raksasa dan setan tunduk dan taat kepadanya. Jadi, bermacam-macam bangsa makhluk halus tunduk dan taat kepada Batara Sangkuriang. Bangsa manusia sendiri tidak ada yang menjadi pengikutnya sebab pada waktu itu jumlah manusia belum begitu banyak, baru ada 39 orang putra Ratu Galuh dan 27 orang putra Raja Pajajaran yang menjadi cikal bakal penduduk Pulau Jawa. Selanjutnya, ditambah oleh pendatang, yaitu orang Arab, Inggris, Malayu dan orang asing lainnya.

Batara Sangkuriang telah 39 tahun lamanya mengembara. Ia tiba di Banten, kemudian kembali ke arah timur dan sampailah di tanah Ukur, Bandung. Ia naik ke Gunung Bohong, di daerah Cimahi sekarang. Sesampainya di puncak gunung, ia menjumpai seorang wanita cantik. Ketika ditanya, ia mengaku sedang mengembara dan bernama Dewi Artati atau Rarasati. Batara Sangkuriang meminta agar wanita itu mau diperistri. Wanita itu diberi hadiah  cincin yang sebenarnya cincin itu pemberian Nyai Dayang Sumbi, ibu Sangkuriang, dengan janji bila cocok pada seorang wanita, dialah calon istrinya. Pada waktu dipakai oleh Dayang Sumbi cincin itu cocok sekali. Oleh karena itu, keduanya bergembira dan saling jatuh cinta, lalu mereka berkencan di situ. Kutu Batara Sangkuriang diambil oleh Rarasati, tetapi ternyata kepala Batara Sangkuriang botak dan teringatlah Rarasati bahwa Nyai Dayang Sumbi pacarnya itu, adalah anaknya sendiri.

Rarasati menyatakan penolakan terhadap Batara Sangkuriang, tetapi Batara Sangkuriang memaksanya. Untuk itu, Rarasati mengajukan syarat berupa permintaan agar Batara Sangkuriang membendung tanah Bandung dan Paregreg sehingga menjadi laut, kemudian agar dibuatkan perahu untuk berlayar. Pekerjaan itu harus diselesaikan Batara Sangkuriang selama satu malam.

Dengan bantuan pasukan makhluk halus dan raksasa, Batara Sangkuriang hampir dapat merampungkan pekerjaannya. Ketika Rarasati menyaksikan permintaannya hampir terkabul, dia menjadi takut. Segera ia memotong-motong kain boeh larang (kain putih suci), kemudian potongan-potongan kain itu dilemparkan ke sekeliling tempat itu. Keluarlah cahaya dari potongan kain itu sehingga keadaan menjadi seperti telah siang. Dengan kejadian itu, batalah perjanjian Batara Sangkuriang dengan Rarasati. Mereka tidak jadi menikah.

Rarasati membuka rahasia kepada Batara Sangkuriang. Rarasati mengaku anak kepada Batara Sangkuriang dan sebaliknya Sangkuriang mengaku ibu kepada Rarasati. Keduanya pulang kembali ke Galuh.

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 03.03
Pada zaman dahulu kala Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, mempunyai seorang pembantu bernama Aki Haruman. Setiap hari Aki Haruman diberi tugas berburu binatang dengan menggunakan alat sumpit (panah) dan busur.

Pada suatu hari Aki Haruman pergi berburu ke arah timur. Sampai  tengah hari ia belum memperoleh hasil buruannya, padahal telah  banyak bukit dan gunung didaki.


Sesampainya di puncak gunung, ia melihat sesuatu yang bersinar disebelah utara pinggir Sungai Cipancar. Ternyata sinar itu keluar dari badan seorang putri yang sedang mandi, yang mengaku putra Sunan Rumenggong, penguasa daerah Limbangan.

Peristiwa pertemuan dengan Nyi Putri dari Limbangan dikisahkan oleh Aki Haruman kepada Prabu Siliwangi. Berdasarkan peristiwa itu, Prabu Siliwangi menamai gunung itu Gunung Haruman. Prabu Siliwangi bermaksud memperistri putri dari Limbangan. Ia mengirimkan Gajah Manggala dan Arya Gajah (keduanya pembesar Pajajaran). Aki Haruman serta sejumlah pengiring bersenjata lengkap meminang putri itu, dengan pesan, lamaran itu harus berhasil dan jangan kembali sebelum berhasil.

Gajah Manggala menyampaikan lamaran Raja Pajajaran kepada Sunan Rumenggong secara lisan dan tertulis untuk meminang putrinya. Lamaran itu disampaikan kepada putrinya, tetapi Nyi Putri menolaknya dengan alasan bahwa Prabu Siliwangi telah mempunyai istri lebih dari 100 orang.

Nyi Putri kemudian menghilang dari pandangan manusia. Ia dicari cari tetapi tidak ditemukan, hanya bau harum yang tercium. Karena peristiwa itu, timbul nama sebuah kampung yang bernama Buniwangi.

Pencarian Nyi Putri dilanjutkan ke berbagai tempat. Di sebuah kampung Nyi Putri memperlihatkan diri  lagi kepada oarng tuanya karena tak sampai hati orang tuanya menanggung kesedihan yang tiada terkira. Ia menampakan diri di sebuah rumah sempil (sempit, kecil) sehingga kampungnya dinamai Kampung Sempil. Nyi Putri dinasihati oleh ayah dan ibunya agar menerima kehendak Raja Pajajaran sebab kalau tidak ia akan memaksanya. Guna memperkuat nasihatnya itu, dikatakan pula ada lima pihak yang wajib dijunjung tinggi, yaitu guru, raja, orang tua, mertua, dan saudara kandung yang sulung.Pernikahan dengan Raja Pajajaran diharapkan oleh orang tuanya akan melahirkan keturunan raja. Akhirnya, Nyi Putri bersedia menerima lamaran Prabu Siliwangi.

Selang 10 tahun antaranya, Nyi Putri mempunyai dua orang putra dari Raja Pajajaran, yaitu Basudewa dan Liman Sanjaya. Kedua anak itu dibawa ke Limbangan oleh Sunan Rumenggong dan kemudian dijadikan kepala daerah disana sesuai dengan amanat Raja Pajajaran. Basudewa menjadi penguasa Limbangan dengan gelar Prabu Basudewa dan Liman Sanjaya menguasai daerah Dayeuhluhur disebelah selatan dengan gelar Prabu Liman Sanjaya.

Prabu Siliwangi mengirimkan dua orang putri untuk kedua orang putranya di Limbangan. Kedua orang putri itu dibawa ke Limbangan dengan digotong pada sebuah tandu. Putri yang sangat cantik digotong dengan tandu jelek dan putri yang biasa saja dibawa pada tandu bagus dengan dihiasi secara semarak. Rombongan terlebih dahulu datang ke Limbangan baru kemudian ke Dayeuhluhur. Oleh karena itu, Prabu Basudewa memilih putri lebih dahulu dan ia memilih putri yang dibawa pada tandu bagus. Prabu Liman Sanjaya memperistri putri yang dibawa pada tandu jelek.

Prabu Basudewa menyesal, telah memilih calon istri yang dibawa pada tandu bagus, sedangkan putri yang sangat cantik diserahkan kepada adiknya, Prabu Liman Sanjaya. Ia bermaksud menukarkan istrinya dengan cara langsung meminta kepada adiknya pada waktu mereka berkumpul di atas panggung pemburuan di Gunung Haruman. Prabu Liman Sanjaya mengabaikan permintaan kakaknya.

Mendengar percakapan suaminya dengan Prabu Basudewa yang akan mempertukarkan istri masing-masing, istri Prabu Liman Sanjaya segera melarikan diri secara diam-diam. Setelah turun dari gunung ia terus mengikuti Sungai Cipicung, Sungai Cilengkrang, dan sampai di Sungai Cimanuk, agak sebelah timur Dayeuhluhur. Diatas sebuah batu ia duduk seorang diri sambil berdo'a, memehon kepada Yang Maha Suci agar dipertemukan lagi dengan suaminya.

Pada waktu Prabu Basudewa dan Prabu Liman Sanjaya mengetahui bahwa istri Parabu Liman Sanjaya yang cantik jelita hilang, segera mereka memerintahkan pengikutnya masing-masing agar mencari Nyi Putri yang hilang itu. Dalam melakukan pencaharian itu Prabu Liman Sanjaya sampai ke batu tempat istrinya duduk berdo'a. Mereka bertemu dan berjanji tak akan berpisah lagi betapapun penderitaan mereka alami.

Dalam pengembaraan selanjutnya, mereka sampai ke sebuah hutan yang sangat strategis untuk dijadikan sebuah negara, setelah melalui Cisalak, Kampung Karesek, Gunung Limbangan, Cipanas dan Eureunsono. Hutan itu ditunggui oleh seorang kakek atas perintah dewa. Kakek itu melihat pohon buah-buahan yang ada disitu semuanya berbuah. Hal itu menandakan bahwa pemilik daerah itu akan segera tiba. Selang tidak berapa lama, Prabu Liman Sanjaya dan istrinya benar-benar datang ke situ. Sesuai dengan amanat yang diterima oleh kakek itu bahwa pemilik tanah itu adalah putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran, maka diserahkan tanah itu kepada Prabu Liman Sanjaya, pemiliknya. Kakek itu sendiri kemudian menghilang sesudah selesai  menunaikan tugasnya.

Lama kelamaan di daerah itu dibangun sebuah negara dengan nama Dayeuhmanggung. Negara baru ini bisa berkembang sehingga dikenal baik oleh tetangga-tetangganya, seperti Sangiangmayak, Timbanganten, Mandalapuntang. Dayeuhmanggung terkenal karena keahliannya dalam membuat tenunan. Rajanya yang lain yang termasyhur ialah Sunan Ranggalawe.

Cerita babad limbangan

Posted at  03.02  |  in  wawasan umum  |  Read More»

Pada zaman dahulu kala Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, mempunyai seorang pembantu bernama Aki Haruman. Setiap hari Aki Haruman diberi tugas berburu binatang dengan menggunakan alat sumpit (panah) dan busur.

Pada suatu hari Aki Haruman pergi berburu ke arah timur. Sampai  tengah hari ia belum memperoleh hasil buruannya, padahal telah  banyak bukit dan gunung didaki.


Sesampainya di puncak gunung, ia melihat sesuatu yang bersinar disebelah utara pinggir Sungai Cipancar. Ternyata sinar itu keluar dari badan seorang putri yang sedang mandi, yang mengaku putra Sunan Rumenggong, penguasa daerah Limbangan.

Peristiwa pertemuan dengan Nyi Putri dari Limbangan dikisahkan oleh Aki Haruman kepada Prabu Siliwangi. Berdasarkan peristiwa itu, Prabu Siliwangi menamai gunung itu Gunung Haruman. Prabu Siliwangi bermaksud memperistri putri dari Limbangan. Ia mengirimkan Gajah Manggala dan Arya Gajah (keduanya pembesar Pajajaran). Aki Haruman serta sejumlah pengiring bersenjata lengkap meminang putri itu, dengan pesan, lamaran itu harus berhasil dan jangan kembali sebelum berhasil.

Gajah Manggala menyampaikan lamaran Raja Pajajaran kepada Sunan Rumenggong secara lisan dan tertulis untuk meminang putrinya. Lamaran itu disampaikan kepada putrinya, tetapi Nyi Putri menolaknya dengan alasan bahwa Prabu Siliwangi telah mempunyai istri lebih dari 100 orang.

Nyi Putri kemudian menghilang dari pandangan manusia. Ia dicari cari tetapi tidak ditemukan, hanya bau harum yang tercium. Karena peristiwa itu, timbul nama sebuah kampung yang bernama Buniwangi.

Pencarian Nyi Putri dilanjutkan ke berbagai tempat. Di sebuah kampung Nyi Putri memperlihatkan diri  lagi kepada oarng tuanya karena tak sampai hati orang tuanya menanggung kesedihan yang tiada terkira. Ia menampakan diri di sebuah rumah sempil (sempit, kecil) sehingga kampungnya dinamai Kampung Sempil. Nyi Putri dinasihati oleh ayah dan ibunya agar menerima kehendak Raja Pajajaran sebab kalau tidak ia akan memaksanya. Guna memperkuat nasihatnya itu, dikatakan pula ada lima pihak yang wajib dijunjung tinggi, yaitu guru, raja, orang tua, mertua, dan saudara kandung yang sulung.Pernikahan dengan Raja Pajajaran diharapkan oleh orang tuanya akan melahirkan keturunan raja. Akhirnya, Nyi Putri bersedia menerima lamaran Prabu Siliwangi.

Selang 10 tahun antaranya, Nyi Putri mempunyai dua orang putra dari Raja Pajajaran, yaitu Basudewa dan Liman Sanjaya. Kedua anak itu dibawa ke Limbangan oleh Sunan Rumenggong dan kemudian dijadikan kepala daerah disana sesuai dengan amanat Raja Pajajaran. Basudewa menjadi penguasa Limbangan dengan gelar Prabu Basudewa dan Liman Sanjaya menguasai daerah Dayeuhluhur disebelah selatan dengan gelar Prabu Liman Sanjaya.

Prabu Siliwangi mengirimkan dua orang putri untuk kedua orang putranya di Limbangan. Kedua orang putri itu dibawa ke Limbangan dengan digotong pada sebuah tandu. Putri yang sangat cantik digotong dengan tandu jelek dan putri yang biasa saja dibawa pada tandu bagus dengan dihiasi secara semarak. Rombongan terlebih dahulu datang ke Limbangan baru kemudian ke Dayeuhluhur. Oleh karena itu, Prabu Basudewa memilih putri lebih dahulu dan ia memilih putri yang dibawa pada tandu bagus. Prabu Liman Sanjaya memperistri putri yang dibawa pada tandu jelek.

Prabu Basudewa menyesal, telah memilih calon istri yang dibawa pada tandu bagus, sedangkan putri yang sangat cantik diserahkan kepada adiknya, Prabu Liman Sanjaya. Ia bermaksud menukarkan istrinya dengan cara langsung meminta kepada adiknya pada waktu mereka berkumpul di atas panggung pemburuan di Gunung Haruman. Prabu Liman Sanjaya mengabaikan permintaan kakaknya.

Mendengar percakapan suaminya dengan Prabu Basudewa yang akan mempertukarkan istri masing-masing, istri Prabu Liman Sanjaya segera melarikan diri secara diam-diam. Setelah turun dari gunung ia terus mengikuti Sungai Cipicung, Sungai Cilengkrang, dan sampai di Sungai Cimanuk, agak sebelah timur Dayeuhluhur. Diatas sebuah batu ia duduk seorang diri sambil berdo'a, memehon kepada Yang Maha Suci agar dipertemukan lagi dengan suaminya.

Pada waktu Prabu Basudewa dan Prabu Liman Sanjaya mengetahui bahwa istri Parabu Liman Sanjaya yang cantik jelita hilang, segera mereka memerintahkan pengikutnya masing-masing agar mencari Nyi Putri yang hilang itu. Dalam melakukan pencaharian itu Prabu Liman Sanjaya sampai ke batu tempat istrinya duduk berdo'a. Mereka bertemu dan berjanji tak akan berpisah lagi betapapun penderitaan mereka alami.

Dalam pengembaraan selanjutnya, mereka sampai ke sebuah hutan yang sangat strategis untuk dijadikan sebuah negara, setelah melalui Cisalak, Kampung Karesek, Gunung Limbangan, Cipanas dan Eureunsono. Hutan itu ditunggui oleh seorang kakek atas perintah dewa. Kakek itu melihat pohon buah-buahan yang ada disitu semuanya berbuah. Hal itu menandakan bahwa pemilik daerah itu akan segera tiba. Selang tidak berapa lama, Prabu Liman Sanjaya dan istrinya benar-benar datang ke situ. Sesuai dengan amanat yang diterima oleh kakek itu bahwa pemilik tanah itu adalah putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran, maka diserahkan tanah itu kepada Prabu Liman Sanjaya, pemiliknya. Kakek itu sendiri kemudian menghilang sesudah selesai  menunaikan tugasnya.

Lama kelamaan di daerah itu dibangun sebuah negara dengan nama Dayeuhmanggung. Negara baru ini bisa berkembang sehingga dikenal baik oleh tetangga-tetangganya, seperti Sangiangmayak, Timbanganten, Mandalapuntang. Dayeuhmanggung terkenal karena keahliannya dalam membuat tenunan. Rajanya yang lain yang termasyhur ialah Sunan Ranggalawe.

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 03.02
Ringkasan cerita

Pohon enau (kawung) di daerah Kabupaten Lebak ada tiga macam: kawung hideung, kawung hejo dan kawung saeran. Pembagian macam-macam kawung ini berdasarkan tinggi pohon, daun, ijuk, pelapah, tangan-tangannya, dan ciri lain lagi. Aturan pembenihan enau dimulai dengan menyemaikan bijinya (kolang-kaling) yang tua. Kemudian, setelah tumbuh dan mencapai enam atau satu tahun, kawung benih itu sudah siap dipindahkan ke lubang. Waktu dimasukan ke lubang harus dibacakan mantra seperti berikut:

"Bismillahirrohmaanirrohiim, Asup kuru bijil montok, hah montok..hah montok
 (masuk kurus, keluar montok)"

Bila ditemukan biji atau benih kawung yang baik di hutan (berasal dari kotoran musang), biji itu dapat di pindahkan ke kampung dengan tata cara yang serupa. Selanjutnya, diterangkan pemeliharaan kawung agar menjadi kawung yang baik dan memuaskan. Setelah itu, diterangkan pula cara pengambilan nira, apa yang harus dilakukan dan bagaimana melaksanakannya. Juga pantangan-pantangan yang harus ditaati diterangkan dengan jelas. "Babad Kawung" ini memuat keterangan yang lengkap mengenai seluk beluk kawung, dari mulai menanam sampai  terjadinya proses produksi gula enau.


Cerita babad kawung Lebak Rangkasbitung

Posted at  03.00  |  in  wawasan umum  |  Read More»

Ringkasan cerita

Pohon enau (kawung) di daerah Kabupaten Lebak ada tiga macam: kawung hideung, kawung hejo dan kawung saeran. Pembagian macam-macam kawung ini berdasarkan tinggi pohon, daun, ijuk, pelapah, tangan-tangannya, dan ciri lain lagi. Aturan pembenihan enau dimulai dengan menyemaikan bijinya (kolang-kaling) yang tua. Kemudian, setelah tumbuh dan mencapai enam atau satu tahun, kawung benih itu sudah siap dipindahkan ke lubang. Waktu dimasukan ke lubang harus dibacakan mantra seperti berikut:

"Bismillahirrohmaanirrohiim, Asup kuru bijil montok, hah montok..hah montok
 (masuk kurus, keluar montok)"

Bila ditemukan biji atau benih kawung yang baik di hutan (berasal dari kotoran musang), biji itu dapat di pindahkan ke kampung dengan tata cara yang serupa. Selanjutnya, diterangkan pemeliharaan kawung agar menjadi kawung yang baik dan memuaskan. Setelah itu, diterangkan pula cara pengambilan nira, apa yang harus dilakukan dan bagaimana melaksanakannya. Juga pantangan-pantangan yang harus ditaati diterangkan dengan jelas. "Babad Kawung" ini memuat keterangan yang lengkap mengenai seluk beluk kawung, dari mulai menanam sampai  terjadinya proses produksi gula enau.


Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 03.00


Pada Babad Kawung Baduy, seperti juga pada Babad Kawung Lebak, dalam uraiannya diterangka hal-hal berikut: Keadaan rupa/macam kawung (pohon enau, aren) dan tata cara mengambil nira. Tentang pemeliharaannya tidak banyak di utarakan karena orang Cibeo dan Kanekes tidak memindahkan Kawung, juga tidak mengadakan persemaian khusus.

Mereka hanya memanfa'atkan Kawung yang tumbuh sendiri akibat biji yang tercecer, terbawa dan menyebar bersama kotoran musang (careuh). Siapa yang menemukan benih yang tumbuh dengan baik cukup membersihkan tanah disekitarnya saja. Hal ini menandakan bahwa Kawung itu ada yang memeliharanya. Dengan demikian, hal itu menunjukan pemiliknya. Kawung yang tanah di bawahnya sudah dibersihkannya oleh seseorang tidak boleh dikatakan orang lain bahwa Kawung itu miliknya.

Di Baduy, baik di Kanekes maupun Cibeo, orang hanya mengambil nira kawung. Nira itu dijadikan minuman yang bernama waju. Di sana (di Baduy Dalam) tidak ada yang memproduksi gula.

Karena tidak ada pemeliharaan Kawung secara khusus dan gula niranya juga tidak diproduksi, maka dalam babad ini lebih di perhatikan pertumbuhan dan umur (kaitan waktu dan proses pertumbuhannya)

Babad di tulis berdasarkan penuturan Sarmad, Jaro Desa Kanekes, yang disampaikan kepada Wedana Raden Atmakusumah.

Cerita babad kawung baduy

Posted at  02.58  |  in  wawasan umum  |  Read More»



Pada Babad Kawung Baduy, seperti juga pada Babad Kawung Lebak, dalam uraiannya diterangka hal-hal berikut: Keadaan rupa/macam kawung (pohon enau, aren) dan tata cara mengambil nira. Tentang pemeliharaannya tidak banyak di utarakan karena orang Cibeo dan Kanekes tidak memindahkan Kawung, juga tidak mengadakan persemaian khusus.

Mereka hanya memanfa'atkan Kawung yang tumbuh sendiri akibat biji yang tercecer, terbawa dan menyebar bersama kotoran musang (careuh). Siapa yang menemukan benih yang tumbuh dengan baik cukup membersihkan tanah disekitarnya saja. Hal ini menandakan bahwa Kawung itu ada yang memeliharanya. Dengan demikian, hal itu menunjukan pemiliknya. Kawung yang tanah di bawahnya sudah dibersihkannya oleh seseorang tidak boleh dikatakan orang lain bahwa Kawung itu miliknya.

Di Baduy, baik di Kanekes maupun Cibeo, orang hanya mengambil nira kawung. Nira itu dijadikan minuman yang bernama waju. Di sana (di Baduy Dalam) tidak ada yang memproduksi gula.

Karena tidak ada pemeliharaan Kawung secara khusus dan gula niranya juga tidak diproduksi, maka dalam babad ini lebih di perhatikan pertumbuhan dan umur (kaitan waktu dan proses pertumbuhannya)

Babad di tulis berdasarkan penuturan Sarmad, Jaro Desa Kanekes, yang disampaikan kepada Wedana Raden Atmakusumah.

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 02.58

Kisah Prabu Siliwangi sangat dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja Pajajaran. Salah satu naskah kuno yang menjelaskan tentang perjalanan Prabu Siliwangi adalah kitab Suwasit. Kitab tersebut berisi 22 bab perjalanan Prabu Siliwangi dimulai dari ayahnya, Prabu Anggararang Raja Kerajaan Gajah. Setelah Prabu Anggararang merasa puteranya layak memangku jabatan raja, akhirnya kerajaan diserahkan kepada Pangeran Pamanah Rasa (sebelum bergelar Siliwangi).


Mengenai nama Siliwangi, dijelaskan bahwa nama tersebut adalah gelar setelah Pangeran Pamanah Rasa masuk Islam sebagai salah satu syarat mempersunting murid Syaikh Quro, yakni Nyi Ratu Subanglarang. Dari isteri ketiga ini, kemudian melahirkan Kian Santang yang bergelar Pangeran Cakrabuana di Cirebon dan Rara Santang, ibunda Sunan Gunung Jati.

Bersamaan dengan luasnya wilayah Gajah, kemudian Prabu Siliwangi menciptakan senjata Kujang, berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di tangkainya. Senjata tersebut kemudian menjadi lambang Jawa Barat. Nama kerajaan Gajah pun diganti menjadi kerajaan Pajajaran, karena menjajarkan (menggabung) kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih. Kisah dalam Kitab Suwasit diakhiri dengan mokhsa (menghilang) dan dipindahkannya kerajaan Pajajaran ke alam Gaib bersama Harimau Putih.

Pada kitab yang sudah diterbitkan oleh Jelajah Nusa, dikisahkan dalam bab keempat bahwa setelah menjadi kerajaan Gajah, Pangeran Pamanah Rasa melakukan pengembaraan hingga di sebuah hutan di wilayah Majalengka. Ketika hendak meminum air dari curug (air terjun), Pangeran Pamanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih sehingga terjadi pertarungan hebat hingga setengah hari. Namun berkat kesaktian Pangeran Pamanah Rasa, siluman Harimau itu bisa dikalahkan dan tunduk padanya.

Kitab yang diterbitkan dengan sambutan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kemudian mengisahkan bahwa Harimau Putih berubah wujud menjadi manusia untuk mendampingi pengembaraan Pangeran Pamanah Rasa hingga menaklukkan kerajaan Galuh dengan bantuan Harimauu Putih. Bahkan disebutkan, ketika terjadi penyerangan oleh kerajaan Mongol (mungkin masa Kubilai Khan), kerajaan Gajah dibantu pasukan Harimau Putih.

Sekilas cerita sejarah prabu siliwangi

Posted at  02.56  |  in  wawasan umum  |  Read More»


Kisah Prabu Siliwangi sangat dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja Pajajaran. Salah satu naskah kuno yang menjelaskan tentang perjalanan Prabu Siliwangi adalah kitab Suwasit. Kitab tersebut berisi 22 bab perjalanan Prabu Siliwangi dimulai dari ayahnya, Prabu Anggararang Raja Kerajaan Gajah. Setelah Prabu Anggararang merasa puteranya layak memangku jabatan raja, akhirnya kerajaan diserahkan kepada Pangeran Pamanah Rasa (sebelum bergelar Siliwangi).


Mengenai nama Siliwangi, dijelaskan bahwa nama tersebut adalah gelar setelah Pangeran Pamanah Rasa masuk Islam sebagai salah satu syarat mempersunting murid Syaikh Quro, yakni Nyi Ratu Subanglarang. Dari isteri ketiga ini, kemudian melahirkan Kian Santang yang bergelar Pangeran Cakrabuana di Cirebon dan Rara Santang, ibunda Sunan Gunung Jati.

Bersamaan dengan luasnya wilayah Gajah, kemudian Prabu Siliwangi menciptakan senjata Kujang, berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di tangkainya. Senjata tersebut kemudian menjadi lambang Jawa Barat. Nama kerajaan Gajah pun diganti menjadi kerajaan Pajajaran, karena menjajarkan (menggabung) kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih. Kisah dalam Kitab Suwasit diakhiri dengan mokhsa (menghilang) dan dipindahkannya kerajaan Pajajaran ke alam Gaib bersama Harimau Putih.

Pada kitab yang sudah diterbitkan oleh Jelajah Nusa, dikisahkan dalam bab keempat bahwa setelah menjadi kerajaan Gajah, Pangeran Pamanah Rasa melakukan pengembaraan hingga di sebuah hutan di wilayah Majalengka. Ketika hendak meminum air dari curug (air terjun), Pangeran Pamanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih sehingga terjadi pertarungan hebat hingga setengah hari. Namun berkat kesaktian Pangeran Pamanah Rasa, siluman Harimau itu bisa dikalahkan dan tunduk padanya.

Kitab yang diterbitkan dengan sambutan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kemudian mengisahkan bahwa Harimau Putih berubah wujud menjadi manusia untuk mendampingi pengembaraan Pangeran Pamanah Rasa hingga menaklukkan kerajaan Galuh dengan bantuan Harimauu Putih. Bahkan disebutkan, ketika terjadi penyerangan oleh kerajaan Mongol (mungkin masa Kubilai Khan), kerajaan Gajah dibantu pasukan Harimau Putih.

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 02.56

Menurut cerita Pantun Bogor,Palabuhan Ratu didirikan oleh Nyai Ratu Pu'un Purnama Sari.atau nyai Ratu Purnama Sari Putri Pertama Prabu Sedah Siliwangi dari Istrinya yang ke tujuh, yang saat itu Prabu Sedah Nusia Mulya bertahta di Pakuan Pajajaran Tengah.

Yang dimaksud Pajajaran tengah menurut Pantun Bogor,yaitu wIlayah antara Bogor Cianjur Sukabumi dan Pelabuan Ratu daerah itu disebut Pajajaran Tengah.karena menurut cerita Pajajaran terdiri atas 5 bagian,akan tetapi bagian bagianya lainya biarlah kita tinggalkan yg penting Pajajaran tengah ini.

Sebetulnya tidak ada niat Ratu Purnama Sari mendirikan Pelabuhan Ratu,ini hanya secara kebetulan saja.
Ketika Pajajaran atau Bogor diserbu oleh tentara Sarosoan Banten yg bergabung Cirebon dan Demak, Pajajaran jatuh pada serangan yang ketiga kalinya,pada waktu itu Prabu Sedah dengan semua orang dari Pajajaran tengah mundur ke selatan.maksud nya hendak menyebrang ke Nusa Larang yg sekarang disebut Pulau Krismas,akan tetapi mereka terpencar,ada yang ikut dengan Prabu Sedah dan ada pula yang ikut dengan Rombongan Nyai Ratu Purnama Sari.

Dan pada saat itu Prabu Sedah hanya sampai ke Leuweung Denuh ( Tegal Buleud ) sekarang Daerah Jampang,karena terhalang Badai besar.
Diantaranya pada waktu itu sampai ke Daerah Palabuhan Ratu sekarang,yaitu Nyai Ratu Purnama Sari bersama Suaminya Raden Kumbang Bagus Setra yg belum lama mereka menikah,dan ikut pula seorang Puragabaya ( Pengawal ) yg bernama Rakean Kalang Sunda,seorang Pengawal yg sangat Sakti,menurut cerita dia murid Satu2nya Sabda Palon.

Sebelumnya Ratu Purnama Sari pernah di pinang oleh salah satu Mantri Majeti Pajajaran yg bernama Jaya Antea,namun oleh Ratu Purnama Sari di tolak,ahirnya Jaya Antea meninggalkan Pajajaran.
Rombongan Ratu purnama Sari dalam perjalanan ke Pengungsian berpapasan dengan Jaya Antea akhirnya timbulah perkelahian antara Kumbang Bagus Setra dengan Jaya Antea,dalam perkelahian ini Kumbang Bagus Setra terperosok ke jurang dan meninggal Dunia di Darah Bantar Gadung sebelum Pelabuan Ratu.

Jaya Antea terus mengejar Rombongan Ratu Purnama Sari yang saat itu Putri Purnama Sari dalam keadaan Hamil dari Raden Kumbang Bagus Setra,pengejaran ini sampai ke Daerah Bagbagan Sekarang.
Tanpa di sangka dalam keadaan kesulitan,Nyai Putri yang sedang di kejar kejar Jaya Antea,tiba pula disana yaitu Rakean Kalang Sunda yang telah mendapat perintah dari Prabu Sedah bahwa Nyai Putri harus di selamatkan,dengan pendek kata rambut selembar darah satu tetes sangat menitipkan kepada Rakean Kalang Sunda.

Terjadilah pertengkaran jaya antea dgn rakean kalang sunda, dan akhirnya terjadi perkelahian, jaya antea harus mengakui kesaktian rakean kalang sunda, akhirnya dia dilemparkan ke laut, dan menurut cerita jaya antea ngahiyang di goa lalay (rawa kalong) menjadi bajul bodas (buaya putih) dan tempat perkelahian antara jaya antea dengan rakean kalang sunda dinamai sekarang gunung jayanti adanya di daerah bagbagan, mungkin diambil dari nama jaya antea. Akhirnya nyai ratu purnama sari menyeberang ke sebelah selatan cimandiri disertai rakean kalang sunda, disanalah ia membuat sebuah kampung yang disebut babakan cidadap.

Babakan cidadap ini bukanlah yang sekarang kampung cidadap loji, daerah bagbagan pelabuhan ratu, atau bojong kopo, melainkan cidadap diantara cimandiri degnan bekas sungai cinyocok atau sekarang kira2 kampung mariuk sampai ke babakan lebu pelabuhan ratu, sekarang sungai cidadap sudah menjadi daratan, penuh dengan rumah-rumah dan hulu sungai cidadap tidak jauh, kira2 sumber loa sekarang. Babakan sumber loa yang didirikan oleh nyai ratu putri purnama sari bersama rakean kalang sunda kemudian menjadi kampung besar, banyak orang-orang berdatangan dari mana-mana. Dan akhirnya atas kesepakatan penduduk, palabuhan nyai ratu yg artinya tempat berlabuhnya ratu. Nyai ratu purnama sari diangkat menjadi kepala kampung atau pu'un (bhs sunda) dengan gelar nyai pu'un purnama sari, arti pu'un disini sama saja seperti di baduy, di kanekes yg artinya kepala suku dan kampung ini bertambah besar. Orang2 berdatangan dari mana-mana, maka disebut dari palabuhan nyai ratu, dan sekarang palabuhan ratu. Palabuhan nyai ratu bertambah ramai akhirnya menjadi sebuah bandar yg besar dan sering dikunjungi perahu layar asing khususnya cina. Seperti telah dikatakan diatas nyai pu'un purnama sari sdg mengandung dan setelah kampung itu selesai maka lahirlah seorang putri yg diberi nama nyai putri mayang sari pamulangan. Dan menurut cerita setelah ibu dan anak itu bertapa digunung winarum dan sampai ngahiyang dr tempat tapa nya yg skr sering di ziarahi yaitu karang hawu. Mereka diberi kuasa sama Yang Maha Kuasa, ibunya nyai ratu purnama sari menjadi ratu laut kidul dengan sebutan ratu laut selatan atau ibu ratu. Setelah itu anaknya mayang sari diangkat menjadi ratu basisir kidul (pantai selatan dgn gelar ratu mayang sagara). Dan ibu dan anak ini diangkat alam menjadi 2 ratu (ratu loro) dgn sebutan umum nyai loro kidul (lain lg dgn roro), yang mempunyai kekuasaan dari timur pantai selatan sampai barat pantai selatan, itulah kekuasaan ratu mayang sagara sbg ratu pantai selatan. Lalu apa sebabnya palabuhan ratu sekarang bukan di cidadap, muara cimandiri? Sebab setelah kampung itu ramai kepemimpinan diserahkan kepada ketua yg dipercayainya, dan beliau pergi bersama anaknya mayang sari kesebuah tempat yg bernama kiara papak (skr karang papak 1 km dr karang hawu, jaraknya tidak jauh beda antara parang kusumo-parang tritis). Setelah pindah ke kiara papak, nyai ratu purnama sari bersama anaknya sering bertapa di gunung winarum, sebelum gunung tersebut di bagi dua sama jalan,yang sekarang disebut PANGJARAHAN IBU RATU KIDUL Karang Hawu.

Setelah ditinggal Pu'un Purnama Sari,Kampung yang ditinggalkan menjadi sepi maka oleh Kokolot Kampung di pindahkan ke dekat Palelangan Ikan sekarang, dan sekarang jadi kota Kabupaten Sukabumi.
Sampai sekarang Palabuhan Ratu tetap Palabu,jadi maksudnya Pelabuhan Ratu itu asal sebutan Penduduk kampung Ci Dadap yang datang dari mana-mana yaitu tempat berlabuhnya Nyai Ratu purnamaSari.
Bila dihubungkan dengan tahun Masehi, Jatuhnya Pajajaran ( Pajajaran Runtag ) pada th 1579 Masehi, tidak akan jauh bedanya dengan waktu dalam cerita ini. Hanya kalau kita perhatikan jatuh nya Pajajaran pada Jaman BAHLA CAI SAGARA KUMPUL hal itu entah merupakan CANDRA SANGKALA contoh SURYA SANGKALA hanya yg jelas masa BAHLA CAI SAGARA NGUMPUL
Sekian riwayat PALABUHAN RATU. Nyambung ke LEBAK CAWENE.

Di ceritakan oleh:
KI NAGA WIRU Sesepuh Sunda LEBAK CAWENE.

legenda nyi mas ratu raras tembang sakti

Posted at  02.54  |  in  wawasan spiritual  |  Read More»


Menurut cerita Pantun Bogor,Palabuhan Ratu didirikan oleh Nyai Ratu Pu'un Purnama Sari.atau nyai Ratu Purnama Sari Putri Pertama Prabu Sedah Siliwangi dari Istrinya yang ke tujuh, yang saat itu Prabu Sedah Nusia Mulya bertahta di Pakuan Pajajaran Tengah.

Yang dimaksud Pajajaran tengah menurut Pantun Bogor,yaitu wIlayah antara Bogor Cianjur Sukabumi dan Pelabuan Ratu daerah itu disebut Pajajaran Tengah.karena menurut cerita Pajajaran terdiri atas 5 bagian,akan tetapi bagian bagianya lainya biarlah kita tinggalkan yg penting Pajajaran tengah ini.

Sebetulnya tidak ada niat Ratu Purnama Sari mendirikan Pelabuhan Ratu,ini hanya secara kebetulan saja.
Ketika Pajajaran atau Bogor diserbu oleh tentara Sarosoan Banten yg bergabung Cirebon dan Demak, Pajajaran jatuh pada serangan yang ketiga kalinya,pada waktu itu Prabu Sedah dengan semua orang dari Pajajaran tengah mundur ke selatan.maksud nya hendak menyebrang ke Nusa Larang yg sekarang disebut Pulau Krismas,akan tetapi mereka terpencar,ada yang ikut dengan Prabu Sedah dan ada pula yang ikut dengan Rombongan Nyai Ratu Purnama Sari.

Dan pada saat itu Prabu Sedah hanya sampai ke Leuweung Denuh ( Tegal Buleud ) sekarang Daerah Jampang,karena terhalang Badai besar.
Diantaranya pada waktu itu sampai ke Daerah Palabuhan Ratu sekarang,yaitu Nyai Ratu Purnama Sari bersama Suaminya Raden Kumbang Bagus Setra yg belum lama mereka menikah,dan ikut pula seorang Puragabaya ( Pengawal ) yg bernama Rakean Kalang Sunda,seorang Pengawal yg sangat Sakti,menurut cerita dia murid Satu2nya Sabda Palon.

Sebelumnya Ratu Purnama Sari pernah di pinang oleh salah satu Mantri Majeti Pajajaran yg bernama Jaya Antea,namun oleh Ratu Purnama Sari di tolak,ahirnya Jaya Antea meninggalkan Pajajaran.
Rombongan Ratu purnama Sari dalam perjalanan ke Pengungsian berpapasan dengan Jaya Antea akhirnya timbulah perkelahian antara Kumbang Bagus Setra dengan Jaya Antea,dalam perkelahian ini Kumbang Bagus Setra terperosok ke jurang dan meninggal Dunia di Darah Bantar Gadung sebelum Pelabuan Ratu.

Jaya Antea terus mengejar Rombongan Ratu Purnama Sari yang saat itu Putri Purnama Sari dalam keadaan Hamil dari Raden Kumbang Bagus Setra,pengejaran ini sampai ke Daerah Bagbagan Sekarang.
Tanpa di sangka dalam keadaan kesulitan,Nyai Putri yang sedang di kejar kejar Jaya Antea,tiba pula disana yaitu Rakean Kalang Sunda yang telah mendapat perintah dari Prabu Sedah bahwa Nyai Putri harus di selamatkan,dengan pendek kata rambut selembar darah satu tetes sangat menitipkan kepada Rakean Kalang Sunda.

Terjadilah pertengkaran jaya antea dgn rakean kalang sunda, dan akhirnya terjadi perkelahian, jaya antea harus mengakui kesaktian rakean kalang sunda, akhirnya dia dilemparkan ke laut, dan menurut cerita jaya antea ngahiyang di goa lalay (rawa kalong) menjadi bajul bodas (buaya putih) dan tempat perkelahian antara jaya antea dengan rakean kalang sunda dinamai sekarang gunung jayanti adanya di daerah bagbagan, mungkin diambil dari nama jaya antea. Akhirnya nyai ratu purnama sari menyeberang ke sebelah selatan cimandiri disertai rakean kalang sunda, disanalah ia membuat sebuah kampung yang disebut babakan cidadap.

Babakan cidadap ini bukanlah yang sekarang kampung cidadap loji, daerah bagbagan pelabuhan ratu, atau bojong kopo, melainkan cidadap diantara cimandiri degnan bekas sungai cinyocok atau sekarang kira2 kampung mariuk sampai ke babakan lebu pelabuhan ratu, sekarang sungai cidadap sudah menjadi daratan, penuh dengan rumah-rumah dan hulu sungai cidadap tidak jauh, kira2 sumber loa sekarang. Babakan sumber loa yang didirikan oleh nyai ratu putri purnama sari bersama rakean kalang sunda kemudian menjadi kampung besar, banyak orang-orang berdatangan dari mana-mana. Dan akhirnya atas kesepakatan penduduk, palabuhan nyai ratu yg artinya tempat berlabuhnya ratu. Nyai ratu purnama sari diangkat menjadi kepala kampung atau pu'un (bhs sunda) dengan gelar nyai pu'un purnama sari, arti pu'un disini sama saja seperti di baduy, di kanekes yg artinya kepala suku dan kampung ini bertambah besar. Orang2 berdatangan dari mana-mana, maka disebut dari palabuhan nyai ratu, dan sekarang palabuhan ratu. Palabuhan nyai ratu bertambah ramai akhirnya menjadi sebuah bandar yg besar dan sering dikunjungi perahu layar asing khususnya cina. Seperti telah dikatakan diatas nyai pu'un purnama sari sdg mengandung dan setelah kampung itu selesai maka lahirlah seorang putri yg diberi nama nyai putri mayang sari pamulangan. Dan menurut cerita setelah ibu dan anak itu bertapa digunung winarum dan sampai ngahiyang dr tempat tapa nya yg skr sering di ziarahi yaitu karang hawu. Mereka diberi kuasa sama Yang Maha Kuasa, ibunya nyai ratu purnama sari menjadi ratu laut kidul dengan sebutan ratu laut selatan atau ibu ratu. Setelah itu anaknya mayang sari diangkat menjadi ratu basisir kidul (pantai selatan dgn gelar ratu mayang sagara). Dan ibu dan anak ini diangkat alam menjadi 2 ratu (ratu loro) dgn sebutan umum nyai loro kidul (lain lg dgn roro), yang mempunyai kekuasaan dari timur pantai selatan sampai barat pantai selatan, itulah kekuasaan ratu mayang sagara sbg ratu pantai selatan. Lalu apa sebabnya palabuhan ratu sekarang bukan di cidadap, muara cimandiri? Sebab setelah kampung itu ramai kepemimpinan diserahkan kepada ketua yg dipercayainya, dan beliau pergi bersama anaknya mayang sari kesebuah tempat yg bernama kiara papak (skr karang papak 1 km dr karang hawu, jaraknya tidak jauh beda antara parang kusumo-parang tritis). Setelah pindah ke kiara papak, nyai ratu purnama sari bersama anaknya sering bertapa di gunung winarum, sebelum gunung tersebut di bagi dua sama jalan,yang sekarang disebut PANGJARAHAN IBU RATU KIDUL Karang Hawu.

Setelah ditinggal Pu'un Purnama Sari,Kampung yang ditinggalkan menjadi sepi maka oleh Kokolot Kampung di pindahkan ke dekat Palelangan Ikan sekarang, dan sekarang jadi kota Kabupaten Sukabumi.
Sampai sekarang Palabuhan Ratu tetap Palabu,jadi maksudnya Pelabuhan Ratu itu asal sebutan Penduduk kampung Ci Dadap yang datang dari mana-mana yaitu tempat berlabuhnya Nyai Ratu purnamaSari.
Bila dihubungkan dengan tahun Masehi, Jatuhnya Pajajaran ( Pajajaran Runtag ) pada th 1579 Masehi, tidak akan jauh bedanya dengan waktu dalam cerita ini. Hanya kalau kita perhatikan jatuh nya Pajajaran pada Jaman BAHLA CAI SAGARA KUMPUL hal itu entah merupakan CANDRA SANGKALA contoh SURYA SANGKALA hanya yg jelas masa BAHLA CAI SAGARA NGUMPUL
Sekian riwayat PALABUHAN RATU. Nyambung ke LEBAK CAWENE.

Di ceritakan oleh:
KI NAGA WIRU Sesepuh Sunda LEBAK CAWENE.

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 02.54

Setelah cerita yang terdahulu menceritakan berdirinya Kampung Pelabuhan Ratu dan diangkatnya Ibu Ratu Purnama Sari sebagai Ratu Laut Selatan dan Ratu Mayang Sagara menjadi Ratu pantai selatan    (Furi Karancang Kancana karang hawu Pelabuahan Ratu) Ibu dan anak sebagai Penguasa Laut dan pantai selatan yaitu mempunyai sebutan Loro  (dua) Kidul (selatan).

Ratu Mayang Sagara yang kecilnya bernama Rara Panas Mayang Nagasari Pamulangan dan setelah diangkat menjadi Ratu Basisir (pantai) contohnya adalah cawene (suci) yaitu seorang gadis yang masih suci  bertapa menyertai ibunya di Gunung Winarum sekarang Pangjarahan Karang Hawu sampai akhirnya ngahiyang menyatu dengan Alam dan meninggalkan ciri kata bahasa Sunda lebah yaitu menunjukan tempat. Jadi Karang Hawu hanya sebatas Lebah Cawene.

Baiklah kita lanjutkan kepada cerita Putri Bungsu Prabu Sedah Nusia Mulya Siliwangi yang memisahkan diri tidak ikut dengan rombongan yaitu Putri Gandrung Arum adiknya Putri Purnama Sari.
Setelah melihat pelangi berlapis 7 yang datangnya dari Laut Selatan melengkung kesebuah hutan. Putri Gandrung Arum meminta izin kepada ayahandanya untuk bertapa di tempat itu.
Dikatakan Pelangi berlapis tujuh itu bukanya berwarna 7, melainkan ada 7 Pelangi. Melihat itu Nyai Putri tertarik hatinya dan memutuskan untuk tidak terus ikut dengan ayahnya.

Nyai Ratu meminta kepada ayahnya, tapanya ini supaya ditemani oleh 7 orang gadis yang masih suci dan harus mirip denganya dan semuanya harus mempunyai tanda ( tahi lalat ) sebesar butir kacang karena Putri Gandrung Arum mempunyai tanda itu.

Singkat cerita diizinkannya permohonan Nyai Gandrung Arum itu dan  Prabu Sedah  berkata :"Baiklah Nyai permintaanmu akan aku kabulkan karena yang akan menetap disini semuanya cawene (perawan/masih suci) maka tempat ini akan kuberi nama Lebah Cawene". Itulah pertama keluar kata lebah cawene (tempat beberapa orang yang masih suci). Marilah kita kembali kepada salah satu bagian dalam cerita "Pajajaran Sirem Papan" yaitu "Kalang Sunda Makalangan".

Ketika Rakean Kalang Sunda ikut membantu mendirikan kampung "Pelabuhan Ratu", ia minta izin sama pu'un Purnama Sari untuk meneruskan perjalanannya menyusul rombongan Prabu Sedah akan tetapi apa yang terjadi, dia kesasar (tersesat) sebab perjalanannya dimalam hari. Ia melihat seekor kunang-kunang yang sangat sukar dikejarny apalagi sampai tertangkap. Sewaktu Rakean Kalang Sunda mengejar kunang-kunang tersebut terbang dan setiap Rakean Kalang Sunda berhenti mengejar kunang-kunang tersebut menghampirinya.

Seorang Rakean Kalang Sunda yang begitu saktinya tidak bisa menangkap kunang-kunang tersebut. Akhirnya tibalah Rakean Kalang Sunda di Lebah Cawene, waktu itu lebah cawene masih hutan. Orang-orang belum tahu Lebah Cawene, hanya Prabu Sedah yang tahu. Bertemulah ia dengsn Nyai Ratu Gandrung Arum yang sedang niat bertapa. Ia tidak sengaja bertemu karena tidak bermaksud mencari Nyai Ratu Gandrung Arum. Ia pun disambut oleh Nyai Ratu Gandrung Arum. Rakean Kalang Sunda merasa heran mengapa Nyai Ratu Gandrung Arum ada disitu. Ia memang tidak mengikuti rombongan Raja. Ia beserta Nyai Putri Purnama Sari, ia mengambil jalan lain dan tersesat sampai disana. Kata Rakean Kalang Sunda "baiklah kalau begitu, tempat ini akan kuberi pagar", maka sebagai pagar ditanamnya 9 buah pohon beringin, kemudian di tanamnya pula pohon kiara bersilang (nyakra bumi) untuk menyesatkan yang mencari. Katanya pula "supaya tidak terlalu mudah, dan terlalu banyak orang yang mengetahui tempat kamu sekalian bertapa & tinggal, akan kuberi pagar pula dengan ajian awun-awun si teja wulung.

Bagaimanapun juga terangnya waktu siang akan selalu gelap karena diselimuti kabut (halimun). Nyai Putri Gandrung Arum mengucapkan terima kasih kepada Rakean Kalang Sunda. Kata Nyai Ratu Gandrung Arum " Barang siapa ingin tahu Lebah dan Lebak Cawene haruslah yang berhak menerima waris saja, sedangkan yang hak menerima waris hanyalah seorang Penggembala disertai Pengiringnya yaitu anak berjenggot, dialah yang akan mengetahui Lebak Cawene.

Lalu kata Nyai Putri " Meskipun dia itu seorang Ahli waris bila ingin masuk ke Lebah dan Lebak Cawene tidak melalui pintu Gerbang yang sudah ditentukan akan tersesat atau meninggal bila tidak mempunyai satu muhung ( mantra ), ibarat visa mau masuk ke Luar Negeri.
Dan anirnya Lebak Cawene pada mencari, tapi semuanya tidak ada yang berhasil. Anehnya semua yang mencari Lebak Cawene ini meninggal sepulang dari pencarian dan yang paling aneh lagi semua meninggal pada hari kamis.

Pernah Lebak Cawene ini ditulis secara bersambung memakai Bahasa Sunda/ Indonesia oleh seorang Budayawan Sunda asal Sukabumi di Koran Radar Sukabumi / Radar Bogor yaitu Bapak Anis Jati Sunda. Dengan judul Misteri Lebak Cawene. Pada tanggal 2 Nov 1997 hari Kamis  Lebak Cawene bisa di taklukan oleh Pembawa cerita ini, yang sekarang menjadi Kasepuhan Adat Sunda Lebak Cawene Ki Naga Wiru bersama Raden Ganda Rasita bekas Penilik Kebudayaan Cisolok Pelabuan Ratu.

Sumber: Ki Naga Wiru (sesepuh lebak cawene)

Karatuan tengah laut kidul

Posted at  02.53  |  in  wawasan umum  |  Read More»


Setelah cerita yang terdahulu menceritakan berdirinya Kampung Pelabuhan Ratu dan diangkatnya Ibu Ratu Purnama Sari sebagai Ratu Laut Selatan dan Ratu Mayang Sagara menjadi Ratu pantai selatan    (Furi Karancang Kancana karang hawu Pelabuahan Ratu) Ibu dan anak sebagai Penguasa Laut dan pantai selatan yaitu mempunyai sebutan Loro  (dua) Kidul (selatan).

Ratu Mayang Sagara yang kecilnya bernama Rara Panas Mayang Nagasari Pamulangan dan setelah diangkat menjadi Ratu Basisir (pantai) contohnya adalah cawene (suci) yaitu seorang gadis yang masih suci  bertapa menyertai ibunya di Gunung Winarum sekarang Pangjarahan Karang Hawu sampai akhirnya ngahiyang menyatu dengan Alam dan meninggalkan ciri kata bahasa Sunda lebah yaitu menunjukan tempat. Jadi Karang Hawu hanya sebatas Lebah Cawene.

Baiklah kita lanjutkan kepada cerita Putri Bungsu Prabu Sedah Nusia Mulya Siliwangi yang memisahkan diri tidak ikut dengan rombongan yaitu Putri Gandrung Arum adiknya Putri Purnama Sari.
Setelah melihat pelangi berlapis 7 yang datangnya dari Laut Selatan melengkung kesebuah hutan. Putri Gandrung Arum meminta izin kepada ayahandanya untuk bertapa di tempat itu.
Dikatakan Pelangi berlapis tujuh itu bukanya berwarna 7, melainkan ada 7 Pelangi. Melihat itu Nyai Putri tertarik hatinya dan memutuskan untuk tidak terus ikut dengan ayahnya.

Nyai Ratu meminta kepada ayahnya, tapanya ini supaya ditemani oleh 7 orang gadis yang masih suci dan harus mirip denganya dan semuanya harus mempunyai tanda ( tahi lalat ) sebesar butir kacang karena Putri Gandrung Arum mempunyai tanda itu.

Singkat cerita diizinkannya permohonan Nyai Gandrung Arum itu dan  Prabu Sedah  berkata :"Baiklah Nyai permintaanmu akan aku kabulkan karena yang akan menetap disini semuanya cawene (perawan/masih suci) maka tempat ini akan kuberi nama Lebah Cawene". Itulah pertama keluar kata lebah cawene (tempat beberapa orang yang masih suci). Marilah kita kembali kepada salah satu bagian dalam cerita "Pajajaran Sirem Papan" yaitu "Kalang Sunda Makalangan".

Ketika Rakean Kalang Sunda ikut membantu mendirikan kampung "Pelabuhan Ratu", ia minta izin sama pu'un Purnama Sari untuk meneruskan perjalanannya menyusul rombongan Prabu Sedah akan tetapi apa yang terjadi, dia kesasar (tersesat) sebab perjalanannya dimalam hari. Ia melihat seekor kunang-kunang yang sangat sukar dikejarny apalagi sampai tertangkap. Sewaktu Rakean Kalang Sunda mengejar kunang-kunang tersebut terbang dan setiap Rakean Kalang Sunda berhenti mengejar kunang-kunang tersebut menghampirinya.

Seorang Rakean Kalang Sunda yang begitu saktinya tidak bisa menangkap kunang-kunang tersebut. Akhirnya tibalah Rakean Kalang Sunda di Lebah Cawene, waktu itu lebah cawene masih hutan. Orang-orang belum tahu Lebah Cawene, hanya Prabu Sedah yang tahu. Bertemulah ia dengsn Nyai Ratu Gandrung Arum yang sedang niat bertapa. Ia tidak sengaja bertemu karena tidak bermaksud mencari Nyai Ratu Gandrung Arum. Ia pun disambut oleh Nyai Ratu Gandrung Arum. Rakean Kalang Sunda merasa heran mengapa Nyai Ratu Gandrung Arum ada disitu. Ia memang tidak mengikuti rombongan Raja. Ia beserta Nyai Putri Purnama Sari, ia mengambil jalan lain dan tersesat sampai disana. Kata Rakean Kalang Sunda "baiklah kalau begitu, tempat ini akan kuberi pagar", maka sebagai pagar ditanamnya 9 buah pohon beringin, kemudian di tanamnya pula pohon kiara bersilang (nyakra bumi) untuk menyesatkan yang mencari. Katanya pula "supaya tidak terlalu mudah, dan terlalu banyak orang yang mengetahui tempat kamu sekalian bertapa & tinggal, akan kuberi pagar pula dengan ajian awun-awun si teja wulung.

Bagaimanapun juga terangnya waktu siang akan selalu gelap karena diselimuti kabut (halimun). Nyai Putri Gandrung Arum mengucapkan terima kasih kepada Rakean Kalang Sunda. Kata Nyai Ratu Gandrung Arum " Barang siapa ingin tahu Lebah dan Lebak Cawene haruslah yang berhak menerima waris saja, sedangkan yang hak menerima waris hanyalah seorang Penggembala disertai Pengiringnya yaitu anak berjenggot, dialah yang akan mengetahui Lebak Cawene.

Lalu kata Nyai Putri " Meskipun dia itu seorang Ahli waris bila ingin masuk ke Lebah dan Lebak Cawene tidak melalui pintu Gerbang yang sudah ditentukan akan tersesat atau meninggal bila tidak mempunyai satu muhung ( mantra ), ibarat visa mau masuk ke Luar Negeri.
Dan anirnya Lebak Cawene pada mencari, tapi semuanya tidak ada yang berhasil. Anehnya semua yang mencari Lebak Cawene ini meninggal sepulang dari pencarian dan yang paling aneh lagi semua meninggal pada hari kamis.

Pernah Lebak Cawene ini ditulis secara bersambung memakai Bahasa Sunda/ Indonesia oleh seorang Budayawan Sunda asal Sukabumi di Koran Radar Sukabumi / Radar Bogor yaitu Bapak Anis Jati Sunda. Dengan judul Misteri Lebak Cawene. Pada tanggal 2 Nov 1997 hari Kamis  Lebak Cawene bisa di taklukan oleh Pembawa cerita ini, yang sekarang menjadi Kasepuhan Adat Sunda Lebak Cawene Ki Naga Wiru bersama Raden Ganda Rasita bekas Penilik Kebudayaan Cisolok Pelabuan Ratu.

Sumber: Ki Naga Wiru (sesepuh lebak cawene)

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 02.53
About Us-Privacy Policy-Contact us
Copyright © 2013 Wawasan spiritual dan blogging. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top