6 Januari 2013


Kecerdasan spiritual atau spiritual intelligence atau spiritual quotient (SQ) ialah suatu intelegensi atau suatu kecerdasan dimana kita berusaha menyelesaikan masalah-masalah hidup ini berdasarkan nilai-nilai spiritual atau agama yang diyakini. Kecerdasan spiritual ialah suatu kecerdasan di mana kita berusaha menempatkan tindakan-tindakan dan kehidupan kita ke dalam suatu konteks yang lebih luas dan lebih kaya, serta lebih bermakna. Kecerdasan spiritual merupakan dasar yang perlu untuk mendorong berfungsinya secara lebih efektif, baik Intelligence Quotient (IQ) maupun Emotional Intelligence (EI). Jadi, kecerdasan spiritual berkaitan dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Hasil Penelitian para psikolog USA menyimpulkan bahwa Kesuksesan dan Keberhasilan seseorang didalam menjalani Kehidupan sangat didukung oleh Kecerdasan Emosional (EQ – 80 %), sedangkan peranan Kecerdasan Intelektual (IQ) hanya 20 % saja. Dimana ternyata Pusatnya IQ dan EQ adalah Kecerdasan Spiritual (SQ), sehingga diyakini bahwa SQ yang menentukan Kesuksesan dan Keberhasilan Seseorang. Dalam hal ini IQ dan EQ akan bisa berfungsi secara Baik/Efektif jika dikendalikan oleh SQ.

Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh Pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani.

Hati Nurani akan menjadi pembimbing manusia terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat, artinya setiap manusia sebenarnya telah memiliki sebuah Radar Hati sebagai pembimbingnya.

Sebagaimana yang udiungkapkan JalaludinRumi : “Mata Hati punya kemampuan 70 kali lebih besar, untuk melihat kebenaran daripada dua indra penglihatan “

Pengertian SQ (Spiritual Quotient), Menurut Danah Zohar, kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan diluar ego atau jiwa sadar. Pandangan lain juga dikemukakan oleh Muhammad Zuhri, bahwa SQ adalah kecerdasan manusia yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Asumsinya adalah jika seseorang hubungan dengan Tuhannya baik maka bisa dipastikan hubungan dengan sesama manusiapun akan baik pula.

Ternyata setelah disadari oleh manusia, bahagia sebagai sebuah perasaan subyektif lebih banyak ditentukan dengan rasa bermakna. Rasa bermakna bagi manusia lain, bagi alam, dan terutama bagi kekuatan besar yang disadari manusia yaitu Tuhan. Manusia mencari makna, inilah penjelasan mengapa dalam dalam keadaan pedih dan sengsara sebagian manusia masih tetap dapat tersenyum. Karena bahagia tercipta dari rasa bermakna, dan ini tidak identik dengan mencapai cita-cita.

Kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence). Ini adalah kecerdasan manusia dalam memberi makna. Perawat yang memiliki taraf kecerdasan spiritual tinggi mampu menjadi lebih bahagia dan menjalani hidup dibandigkan mereka yang taraf kecerdasan spiritualnya rendah. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna.

Manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Ada yang merasa hidupnya bermakna dengan menyelamatkan anjing laut. Ada yang merasa bermakna dengan membuat lukisan indah. Bahkan ada yang merasa mendapatkan makna hidup dengan menempuh bahaya bersusah payah mendaki puncak tertinggi Everest di pegunungan Himalaya. pencarian makana bagi perawat seharusnya mampu mengaitkan pemberian pelayanan keperawatan atas dasar ibadah pada Allah dan pertolongan bagi manusia yang membutuhkan. Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.

Ada kesan yang salah bahwa, para orang sukses bukanlah orang yang relijius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini ‘tampak’ kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin.

Para orang sukses sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal, ternyata banyak yang sangat relijius. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa para orang sukses sejati menyumbangkan minimal 10 persen dari pendapatan kotor untuk kegiatan amal, bahkan saat dulu mereka masih miskin. Mereka menyadari bahwa kekayaan mereka hanyalah titipan dari Tuhan, ‘silent partner’ mereka.

Akhirnya melalui kecerdasan spiritual manusia mampu menciptakan makna untuk tujuan-tujuannya. Hasil dari kecerdasan aspirasi yang berupa cita-cita diberi makna oleh kecerdasan spiritual. Melalui kecerdasan spiritual pula manusia mampu tetap bahagia dalam perjalanan menuju teraihnya cita-cita. Kunci bahagia adalah Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan spiritual (SQ) berkait dengan masalah makna, motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual-teknikal, EQ meratakan jalan membangun relasi sosial, SQ mempertanyakan apakah makna, tujuan,dan filsafat hidup seseorang.

Menurut Ian Marshall dan Danah Zohar, penulis buku SQ, The Ultimate Intelligence, tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberi ketenangan dan kebahagiaan hidup.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, berbagai pakar psikologi dan manajemen di Barat mulai menyadari betapa vitalnya aspek spiritualitas dalam karier seseorang, meski dalam menyampaikannya terkesan hati-hati. Yang fenomenal, tak kurang dari Stephen R Covey meluncurkan buku The 8th Habit (2004), padahal selama ini dia sudah menjadi ikon dari teori manajemen kelas dunia. Rupanya Covey sampai pada kesimpulan, kecerdasan intelektualitas dan emosionalitas tanpa bersumber spiritualitas akan kehabisan energi dan berbelok arah.

Di Indonesia, krisis kepercayaan terhadap intelektualitas kian menguat saat bangsa yang secara ekonomi amat kaya ini dikenal sebagai sarang koruptor dan miskin, padahal hampir semua yang menjadi menteri maupun birokrat memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Asumsi bahwa kesarjanaan dan intelektualitas akan mengantar masyarakat yang damai dan bermoral digugat Donald B Caine dalam buku: Batas Nalar, Rasionalitas dan Perilaku Manusia yang sedang dibicarakan banyak orang. Mengapa bangsa Jerman yang dikenal paling maju pendidikannya dan melahirkan banyak pemikir kelas dunia pernah dan bisa berbuat amat kejam? Pertanyaan serupa bisa dialamatkan kepada Inggris, Amerika Serikat, dan Israel.

Sumber:Widodo Gunawan

Memahami lebih jauh tentang spiritual quotient (SQ) atau kecerdasan spiritual

Posted at  14.28  |  in  wawasan umum  |  Read More»


Kecerdasan spiritual atau spiritual intelligence atau spiritual quotient (SQ) ialah suatu intelegensi atau suatu kecerdasan dimana kita berusaha menyelesaikan masalah-masalah hidup ini berdasarkan nilai-nilai spiritual atau agama yang diyakini. Kecerdasan spiritual ialah suatu kecerdasan di mana kita berusaha menempatkan tindakan-tindakan dan kehidupan kita ke dalam suatu konteks yang lebih luas dan lebih kaya, serta lebih bermakna. Kecerdasan spiritual merupakan dasar yang perlu untuk mendorong berfungsinya secara lebih efektif, baik Intelligence Quotient (IQ) maupun Emotional Intelligence (EI). Jadi, kecerdasan spiritual berkaitan dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Hasil Penelitian para psikolog USA menyimpulkan bahwa Kesuksesan dan Keberhasilan seseorang didalam menjalani Kehidupan sangat didukung oleh Kecerdasan Emosional (EQ – 80 %), sedangkan peranan Kecerdasan Intelektual (IQ) hanya 20 % saja. Dimana ternyata Pusatnya IQ dan EQ adalah Kecerdasan Spiritual (SQ), sehingga diyakini bahwa SQ yang menentukan Kesuksesan dan Keberhasilan Seseorang. Dalam hal ini IQ dan EQ akan bisa berfungsi secara Baik/Efektif jika dikendalikan oleh SQ.

Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh Pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani.

Hati Nurani akan menjadi pembimbing manusia terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat, artinya setiap manusia sebenarnya telah memiliki sebuah Radar Hati sebagai pembimbingnya.

Sebagaimana yang udiungkapkan JalaludinRumi : “Mata Hati punya kemampuan 70 kali lebih besar, untuk melihat kebenaran daripada dua indra penglihatan “

Pengertian SQ (Spiritual Quotient), Menurut Danah Zohar, kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan diluar ego atau jiwa sadar. Pandangan lain juga dikemukakan oleh Muhammad Zuhri, bahwa SQ adalah kecerdasan manusia yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Asumsinya adalah jika seseorang hubungan dengan Tuhannya baik maka bisa dipastikan hubungan dengan sesama manusiapun akan baik pula.

Ternyata setelah disadari oleh manusia, bahagia sebagai sebuah perasaan subyektif lebih banyak ditentukan dengan rasa bermakna. Rasa bermakna bagi manusia lain, bagi alam, dan terutama bagi kekuatan besar yang disadari manusia yaitu Tuhan. Manusia mencari makna, inilah penjelasan mengapa dalam dalam keadaan pedih dan sengsara sebagian manusia masih tetap dapat tersenyum. Karena bahagia tercipta dari rasa bermakna, dan ini tidak identik dengan mencapai cita-cita.

Kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence). Ini adalah kecerdasan manusia dalam memberi makna. Perawat yang memiliki taraf kecerdasan spiritual tinggi mampu menjadi lebih bahagia dan menjalani hidup dibandigkan mereka yang taraf kecerdasan spiritualnya rendah. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna.

Manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Ada yang merasa hidupnya bermakna dengan menyelamatkan anjing laut. Ada yang merasa bermakna dengan membuat lukisan indah. Bahkan ada yang merasa mendapatkan makna hidup dengan menempuh bahaya bersusah payah mendaki puncak tertinggi Everest di pegunungan Himalaya. pencarian makana bagi perawat seharusnya mampu mengaitkan pemberian pelayanan keperawatan atas dasar ibadah pada Allah dan pertolongan bagi manusia yang membutuhkan. Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.

Ada kesan yang salah bahwa, para orang sukses bukanlah orang yang relijius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini ‘tampak’ kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin.

Para orang sukses sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal, ternyata banyak yang sangat relijius. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa para orang sukses sejati menyumbangkan minimal 10 persen dari pendapatan kotor untuk kegiatan amal, bahkan saat dulu mereka masih miskin. Mereka menyadari bahwa kekayaan mereka hanyalah titipan dari Tuhan, ‘silent partner’ mereka.

Akhirnya melalui kecerdasan spiritual manusia mampu menciptakan makna untuk tujuan-tujuannya. Hasil dari kecerdasan aspirasi yang berupa cita-cita diberi makna oleh kecerdasan spiritual. Melalui kecerdasan spiritual pula manusia mampu tetap bahagia dalam perjalanan menuju teraihnya cita-cita. Kunci bahagia adalah Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan spiritual (SQ) berkait dengan masalah makna, motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual-teknikal, EQ meratakan jalan membangun relasi sosial, SQ mempertanyakan apakah makna, tujuan,dan filsafat hidup seseorang.

Menurut Ian Marshall dan Danah Zohar, penulis buku SQ, The Ultimate Intelligence, tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberi ketenangan dan kebahagiaan hidup.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, berbagai pakar psikologi dan manajemen di Barat mulai menyadari betapa vitalnya aspek spiritualitas dalam karier seseorang, meski dalam menyampaikannya terkesan hati-hati. Yang fenomenal, tak kurang dari Stephen R Covey meluncurkan buku The 8th Habit (2004), padahal selama ini dia sudah menjadi ikon dari teori manajemen kelas dunia. Rupanya Covey sampai pada kesimpulan, kecerdasan intelektualitas dan emosionalitas tanpa bersumber spiritualitas akan kehabisan energi dan berbelok arah.

Di Indonesia, krisis kepercayaan terhadap intelektualitas kian menguat saat bangsa yang secara ekonomi amat kaya ini dikenal sebagai sarang koruptor dan miskin, padahal hampir semua yang menjadi menteri maupun birokrat memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Asumsi bahwa kesarjanaan dan intelektualitas akan mengantar masyarakat yang damai dan bermoral digugat Donald B Caine dalam buku: Batas Nalar, Rasionalitas dan Perilaku Manusia yang sedang dibicarakan banyak orang. Mengapa bangsa Jerman yang dikenal paling maju pendidikannya dan melahirkan banyak pemikir kelas dunia pernah dan bisa berbuat amat kejam? Pertanyaan serupa bisa dialamatkan kepada Inggris, Amerika Serikat, dan Israel.

Sumber:Widodo Gunawan

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 14.28

4 Januari 2013


Secara metafisika dan spiritual, yang menjadi pusat spiritualitas atau Pusat Utama Jiwa seorang manusia adalah QALBU-nya, dimana dalam dimensi etherik/batiniahnya disebut dengan Lathoif Qalbu sedangkan dalam dimensi fisiknya di sebut dengan jantung. Sedangkan otak adalah pusat jiwa minor atau pusat jiwa kedua setelah jantung. Pendapat saya ini tentu saja bertentangan dengan pengetahuan umum yang ada saat ini, baik pengetahuan yang bersumber dari dunia dunia barat maupun pengetahuan yang bersumber dari dunia timur.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh ilmuwan barat bahwa pusat spiritual atau kecerdasan spiritual manusia itu berpusat di otak yang disebut GOD SPOT. Demikian juga spiritualis dunia timur yang berkiblat dari India & China mengemukakan bahwa pusat spiritualitas itu berada di Cakra Ajna & Cakra Mahkota, yang nota bene merupakan dimensi etherik/bathiniah dari OTAK.

Dalam tulisan kali ini saya akan menyajikan satu lagi karakter istimewa dari Jantung selain sebagai Pusat Jiwa, yaitu kemampuannya untuk memahami atau berfikir.

Allah swt berfirman :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati (QOLBU / قُلُوبٌ / JANTUNG) yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati (QOLBU / قُلُوبٌ / JANTUNG)yang di dalam dada." ( QS. Al Hajj : 46 )

Ayat ini menegaskan bahwa jantung (hati) itu berpikir dan sadar. Anehnya, sebagian ilmuwan akhir-akhir ini baru menemukan hubungan antara hubungan hati dengan kesadaran dan berfikir. Para ilmuwan sekarang baru berbicara tentang otak yang berada dalam jantung (hati) yang terdiri dari 40.000 neuron, yaitu yang kita sebut "akal" yang terdapat di pusat jantung. Akal inilah yang bertugas memandu otak untuk melaksanakan fungsinya. Oleh karena itu Allah menjadikan jantung sebagai sarana untuk memahami.

Dari sekian peneliti psychophysiological untuk hubungan otak dan jantung, beberapanya adalah John dan Beatrice Lacey. Melalui 20 tahun penelitian, mereka temukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam cara-cara yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dan bereaksi terhadap fenomena. Kedua peneliti itu juga menemukan betapa jantung sepertinya punya logika “anehnya” sendiri yang memiliki alur berbeda (dan mandiri) dari arahan dari sistem syaraf tak-sadar (autonomic). Jantung ini tampak selalu mengirimkan pesan sarat-makna kepada otak yang tidak hanya dipahami oleh si otak, namun juga dipatuhi. Maka menariknya, pesan dari jantung tersebut akan berpengaruh pada pilihan perilaku seseorang.

Pada 1991, Dr. J. Andrew Armour memperkenalkan konsep “otak jantung”. Hasil kerjanya menyatakan bahwa jantung memiliki sistem syaraf intrinsik kompleks yang sedemikian rumitnya hingga bisa dikata bahwa dia memiliki “otak kecil”nya sendiri. Jantung memiliki sistem sirkuit yang menjadikannya mampu bertindak independen atas otak – untuk secara mandiri belajar, mengingat, dan bahkan merasa dan mengindera.

Sistem syarat jantung terdiri dari 40.000 neuron yang disebut sensory neurites. Komunikasi antara jantung dan otak dilakukan melalui jalur afferent. Melaluinya, sinyal sakit (pain) dan sensasi rasa lain masuk ke otak, tepatnya yang disebut medulla. Lebih dari itu, ada juga sinyal yang terus masuk lebih dalam ke wilayah otak sedemikian rupa berpengaruh pada persepsi, pengambilan keputusan dan proses kognitif yang lain.

The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body.

Institute of Heartmath menemukan bahwa manakala pola ritme otak bersifat baik dan koheren, informasi syaraf yang dikirimkan ke otak akan memfasilitasi cortical function. Efek darinya adalah: kejelasan pikiran yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatnya daya kreatif. Sebagai tambahan, input yang koheren dan positif dari jantung cenderung akan membentuk cara pandang dan rasa yang baik.

Since emotional processes can work faster than the mind, it takes a power stronger than the mind to bend perception, override emotional circuitry, and provide us with intuitive feeling instead. It takes the power of the heart.”
~Doc Childre, founder, Institute of Heart.

Tentu ada sahabat yang bertanya, bagaimana dengan manusia yang mendapatkan operasi transplantasi Jantung. Atau Jantungnya di ganti dengan Jantung buatan ataupun Jantung Orang lain (Donor). Apakah jiwanya ataupun akalnya juga turut berganti identitas....??

Sahabat, Akal & Jiwa adalah merupakan bagian dari diri manusia yang berada di dimensi batiniyah atau ruhani. Sebagaimana yang sering saya ulas, bahwa sejatinya manusia adalah ruhaninya. Sedangkan tubuh jasmaninya hanyalah merupakan kendaraan bagi manusia selama hidup di dunia semata.

Jadi, walaupun seluruh organ dalam tubuh seorang manusia di gonta-ganti spare partnya. Baik otaknyakah, jantungnyakah, ataukah ginjalnya, dll. Jati Diri (Ruhani) manusia tersebut adalah tetap, hanya saja spare part fisik yang menjadi wadah spare part Ruhani sajalah yang berubah. Hanya saja, karena ada perubahan wadah, maka Karakter Jati diri ruhani kita akan sedikit mengadakan adjustmen dengan wadah yang baru. Dan itu bisa terlihat oleh orang lain sebagai perubahan karakter dan sifat.

Hal ini bisa dianalogikan dengan sebuah komputer. Dimensi ruhani manusia kita analogikan dengan Software komputer, sedangkan dimensi fisik manusia kita analogikan dengan hardware komputer. Nah, pergantian spare part hardware sebuah komputer tentu akan mempengaruhi kemampuan software dalam beroperasi dan menjalankan program-programnya secara optimal seperti biasanya apabila spesifikasi dari sparepart hardware pengganti tersebut tidak jelas atau berbeda spesifikasi sparepartnya dengan yang digantikan.

Bila pada komputer, spesifikasi kapasitas dan kemampuan sebuah spare part hardware adalah sudah jelas dan terukur. Sehingga pelaksanaan pergantian spare part hardware apabila masih dalam spesifikasi yang sama tidak akan mempengaruhi kinerja software. Tetapi bagaimana dengan spesifikasi spare part organ manusia....??? Sudahkah spesifikasi kapasitas dan kemampuan sebuah organ diketahui sepenuhnya oleh tekhnologi buatan manusia....??? Saya yakin belum.... Yang diketahui manusia mengenai spesifikasi organ tubuh manusia belum ada 1% dari kemampuan sesungguhnya organ tersebut.

Nah, bagaimana sebuah organ yang tidak jelas kapasitas spesifikasinya akan menggantikan organ manusia lain yang dalam hal ini sebagaimana sudah diketahui oleh umum bahwa setiap individu manusia adalah unik dan spesial. Mampukah organ pengganti tersebut menggantikan sepenuhnya keunikan dari organ lama...?? Komposisi Mind, Body, & Soul seorang manusia adalah unik. Perubahan dalam komposisinya akan mengakibatkan perubahan penampilannya. Apalagi bila yang digantikan itu adalah sebuah organ vital seperti jantung dan otak.

Pergantian organ akan mempengaruhi kinerja Jati diri manusia tersebut. Walaupun organ pengganti itu merupakan organ donor dari organ manusia lain. Sedikit ataupun banyak, kinerja Jati Diri dalam mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya akan terpengaruh, dan itu berakibat terjadinya perubahan dalam bersikap, berfikir, dan bertindak. Yang akan berbeda sedikit atau banyak dari karakternya dahulu.

Kesimpulannya :
  • Dalam hal proses berfikir dan memahami sesuatu, Jantung mempunyai kecerdasan tersendiri untuk memproses data dan informasi. Dan dalam hal ini, kecerdasan Jantung lebih bersifat ke arah kecerdasan intuitif/Laduni/Kasyaf yang bersumber dari Ilham Tuhan.
  • Operasi penggantian jantung ataupun otak tidak merubah identitas Jati Diri atau Ruhani manusia yang bersangkutan. Namun sedikit banyak akan merubah karakter dan sifat asli atau sifat lama dari manusia yang bersangkutan.
Wallahu A'lam..

Referensi:
Rollin McCraty, The Scientific Role of the Heart in Learning and Performance, Institute of HeartMath, 2003.

Adapted from: quantumtranceformasi

Qolbu adalah pusat dari Nur Ilahi

Posted at  15.02  |  in  wawasan umum  |  Read More»


Secara metafisika dan spiritual, yang menjadi pusat spiritualitas atau Pusat Utama Jiwa seorang manusia adalah QALBU-nya, dimana dalam dimensi etherik/batiniahnya disebut dengan Lathoif Qalbu sedangkan dalam dimensi fisiknya di sebut dengan jantung. Sedangkan otak adalah pusat jiwa minor atau pusat jiwa kedua setelah jantung. Pendapat saya ini tentu saja bertentangan dengan pengetahuan umum yang ada saat ini, baik pengetahuan yang bersumber dari dunia dunia barat maupun pengetahuan yang bersumber dari dunia timur.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh ilmuwan barat bahwa pusat spiritual atau kecerdasan spiritual manusia itu berpusat di otak yang disebut GOD SPOT. Demikian juga spiritualis dunia timur yang berkiblat dari India & China mengemukakan bahwa pusat spiritualitas itu berada di Cakra Ajna & Cakra Mahkota, yang nota bene merupakan dimensi etherik/bathiniah dari OTAK.

Dalam tulisan kali ini saya akan menyajikan satu lagi karakter istimewa dari Jantung selain sebagai Pusat Jiwa, yaitu kemampuannya untuk memahami atau berfikir.

Allah swt berfirman :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati (QOLBU / قُلُوبٌ / JANTUNG) yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati (QOLBU / قُلُوبٌ / JANTUNG)yang di dalam dada." ( QS. Al Hajj : 46 )

Ayat ini menegaskan bahwa jantung (hati) itu berpikir dan sadar. Anehnya, sebagian ilmuwan akhir-akhir ini baru menemukan hubungan antara hubungan hati dengan kesadaran dan berfikir. Para ilmuwan sekarang baru berbicara tentang otak yang berada dalam jantung (hati) yang terdiri dari 40.000 neuron, yaitu yang kita sebut "akal" yang terdapat di pusat jantung. Akal inilah yang bertugas memandu otak untuk melaksanakan fungsinya. Oleh karena itu Allah menjadikan jantung sebagai sarana untuk memahami.

Dari sekian peneliti psychophysiological untuk hubungan otak dan jantung, beberapanya adalah John dan Beatrice Lacey. Melalui 20 tahun penelitian, mereka temukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam cara-cara yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dan bereaksi terhadap fenomena. Kedua peneliti itu juga menemukan betapa jantung sepertinya punya logika “anehnya” sendiri yang memiliki alur berbeda (dan mandiri) dari arahan dari sistem syaraf tak-sadar (autonomic). Jantung ini tampak selalu mengirimkan pesan sarat-makna kepada otak yang tidak hanya dipahami oleh si otak, namun juga dipatuhi. Maka menariknya, pesan dari jantung tersebut akan berpengaruh pada pilihan perilaku seseorang.

Pada 1991, Dr. J. Andrew Armour memperkenalkan konsep “otak jantung”. Hasil kerjanya menyatakan bahwa jantung memiliki sistem syaraf intrinsik kompleks yang sedemikian rumitnya hingga bisa dikata bahwa dia memiliki “otak kecil”nya sendiri. Jantung memiliki sistem sirkuit yang menjadikannya mampu bertindak independen atas otak – untuk secara mandiri belajar, mengingat, dan bahkan merasa dan mengindera.

Sistem syarat jantung terdiri dari 40.000 neuron yang disebut sensory neurites. Komunikasi antara jantung dan otak dilakukan melalui jalur afferent. Melaluinya, sinyal sakit (pain) dan sensasi rasa lain masuk ke otak, tepatnya yang disebut medulla. Lebih dari itu, ada juga sinyal yang terus masuk lebih dalam ke wilayah otak sedemikian rupa berpengaruh pada persepsi, pengambilan keputusan dan proses kognitif yang lain.

The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body.

Institute of Heartmath menemukan bahwa manakala pola ritme otak bersifat baik dan koheren, informasi syaraf yang dikirimkan ke otak akan memfasilitasi cortical function. Efek darinya adalah: kejelasan pikiran yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatnya daya kreatif. Sebagai tambahan, input yang koheren dan positif dari jantung cenderung akan membentuk cara pandang dan rasa yang baik.

Since emotional processes can work faster than the mind, it takes a power stronger than the mind to bend perception, override emotional circuitry, and provide us with intuitive feeling instead. It takes the power of the heart.”
~Doc Childre, founder, Institute of Heart.

Tentu ada sahabat yang bertanya, bagaimana dengan manusia yang mendapatkan operasi transplantasi Jantung. Atau Jantungnya di ganti dengan Jantung buatan ataupun Jantung Orang lain (Donor). Apakah jiwanya ataupun akalnya juga turut berganti identitas....??

Sahabat, Akal & Jiwa adalah merupakan bagian dari diri manusia yang berada di dimensi batiniyah atau ruhani. Sebagaimana yang sering saya ulas, bahwa sejatinya manusia adalah ruhaninya. Sedangkan tubuh jasmaninya hanyalah merupakan kendaraan bagi manusia selama hidup di dunia semata.

Jadi, walaupun seluruh organ dalam tubuh seorang manusia di gonta-ganti spare partnya. Baik otaknyakah, jantungnyakah, ataukah ginjalnya, dll. Jati Diri (Ruhani) manusia tersebut adalah tetap, hanya saja spare part fisik yang menjadi wadah spare part Ruhani sajalah yang berubah. Hanya saja, karena ada perubahan wadah, maka Karakter Jati diri ruhani kita akan sedikit mengadakan adjustmen dengan wadah yang baru. Dan itu bisa terlihat oleh orang lain sebagai perubahan karakter dan sifat.

Hal ini bisa dianalogikan dengan sebuah komputer. Dimensi ruhani manusia kita analogikan dengan Software komputer, sedangkan dimensi fisik manusia kita analogikan dengan hardware komputer. Nah, pergantian spare part hardware sebuah komputer tentu akan mempengaruhi kemampuan software dalam beroperasi dan menjalankan program-programnya secara optimal seperti biasanya apabila spesifikasi dari sparepart hardware pengganti tersebut tidak jelas atau berbeda spesifikasi sparepartnya dengan yang digantikan.

Bila pada komputer, spesifikasi kapasitas dan kemampuan sebuah spare part hardware adalah sudah jelas dan terukur. Sehingga pelaksanaan pergantian spare part hardware apabila masih dalam spesifikasi yang sama tidak akan mempengaruhi kinerja software. Tetapi bagaimana dengan spesifikasi spare part organ manusia....??? Sudahkah spesifikasi kapasitas dan kemampuan sebuah organ diketahui sepenuhnya oleh tekhnologi buatan manusia....??? Saya yakin belum.... Yang diketahui manusia mengenai spesifikasi organ tubuh manusia belum ada 1% dari kemampuan sesungguhnya organ tersebut.

Nah, bagaimana sebuah organ yang tidak jelas kapasitas spesifikasinya akan menggantikan organ manusia lain yang dalam hal ini sebagaimana sudah diketahui oleh umum bahwa setiap individu manusia adalah unik dan spesial. Mampukah organ pengganti tersebut menggantikan sepenuhnya keunikan dari organ lama...?? Komposisi Mind, Body, & Soul seorang manusia adalah unik. Perubahan dalam komposisinya akan mengakibatkan perubahan penampilannya. Apalagi bila yang digantikan itu adalah sebuah organ vital seperti jantung dan otak.

Pergantian organ akan mempengaruhi kinerja Jati diri manusia tersebut. Walaupun organ pengganti itu merupakan organ donor dari organ manusia lain. Sedikit ataupun banyak, kinerja Jati Diri dalam mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya akan terpengaruh, dan itu berakibat terjadinya perubahan dalam bersikap, berfikir, dan bertindak. Yang akan berbeda sedikit atau banyak dari karakternya dahulu.

Kesimpulannya :
  • Dalam hal proses berfikir dan memahami sesuatu, Jantung mempunyai kecerdasan tersendiri untuk memproses data dan informasi. Dan dalam hal ini, kecerdasan Jantung lebih bersifat ke arah kecerdasan intuitif/Laduni/Kasyaf yang bersumber dari Ilham Tuhan.
  • Operasi penggantian jantung ataupun otak tidak merubah identitas Jati Diri atau Ruhani manusia yang bersangkutan. Namun sedikit banyak akan merubah karakter dan sifat asli atau sifat lama dari manusia yang bersangkutan.
Wallahu A'lam..

Referensi:
Rollin McCraty, The Scientific Role of the Heart in Learning and Performance, Institute of HeartMath, 2003.

Adapted from: quantumtranceformasi

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 15.02

Nang..ning..ning...nang...kung..(heNANG heNING, heNING heNANG KUN) adalah nyayian kecil orang tua dahulu kalau sedang menggendong anaknya atau dikala menimang-nimang anaknya. Ternyata setelah penulis dewasa, penulis menyadari nyanyi-nyanyi kecil orang tua dahulu dikala menimang anaknya ada makna implicit yang sangat dalam sekali setelah dikaji. Karena orang tua dahulu sering memberikan statement, kidung atau nyanyi-nyanyi kecil berupa makna kiasan atau perlambang kehidupan.

Zaman sekarang kebanyakan orang seharian sibuk. Bukankah sebaiknya di dalam kesibukan, kita dapat menyempatkan waktu untuk sesa'at saja menenangkan diri kita, melakukan Zero Mind Process dan mengaktifkan Kekuatan keheningan anda.

Kekuatan Keheningan akan membawa anda ke dalam suasana hening yang membantu Anda melakukan introspeksi diri. Sehingga, dalam keheningan tersebut Anda dapat menelusuri apa sebenarnya visi dan misi hidup hidup di dunia dan bertanya kepada hati nurani apa cara yang lebih baik dari yang sudah kita lakukan saat ini untuk meraih sukses abadi di dunia akherat.

Saat hidup memutar kita bagaikan roda, amat mudah kita tergulung dan terombang-ambing dalam putarannya. Hanya jika kita berdiam di pusatnya, maka sekencang apa pun roda berputar, batin kita tetap hening, dan bening.

Namun roda kehidupan modern yang bergerak sangat cepat seringkali tidak mengizinkan kita untuk diam dan berhenti sejenak. Bahkan kita tidak lagi tahu caranya bernapas dengan sadar, berserah pada inteligensi tubuh, dan beristirahat secara total. Saat tubuh berbaring, pikiran kita berputar. Saat tubuh beraktivitas, pikiran kita bercabang liar. Saat hati berontak, logika kita meredam dan menolak.

Begitu banyak timbunan sampah batin—dari mulai urusan hati yang tak tuntas, trauma yang belum sembuh, sampai segudang rencana dan ketakutan akan masa depan—yang kita gendong dari hari ke hari, tahun ke tahun. Beban ini, jika tidak pernah kita kuras, akan muncul ke permukaan sebagai penyakit fisik, stres, paranoia, dan aneka fenomena lain yang kita sebut sebagai “problem”.

Memang Untuk hidup yang baik, haruslah bekerja. Bahkan bekerja keras adalah keharusan dalam kehidupan. Tanpa kerja keras tidak akan ada keberhasilan. "Saya sangat percaya akan keberuntungan", kata Thomas Jefferson, "tapi saya menemukan bahwa semakin keras saya bekerja, semakin banyak yang saya peroleh dari padanya".

Tetapi tidak jarang orang terjebak dalam kesibukan demi kesibukan tanpa henti, sampai kemudian terhenyak, kecapean, dan bertanya pada diri sendiri, "Saya ini sibuk untuk apa, untuk siapa, dan mengejar apa?"

Dalam kesibukan yang sering terasa tidak habis-habisnya dan membuat waktu terlalu cepat berjalan, kau perlu mengambil waktu untuk berhenti sejenak. Menyendiri. Mendengarkan diri kita sendiri.

Sering tidak disadari, kita (telah) tenggelam atau menenggelamkan diri dalam kesibukan dan hiruk-pikuk sekitar kita, karena alasan yang salah: ingin melupakan hiruk pikuk perbantahan dalam diri kita, di mana kita sendiri berdiri sebagai tersangka, dan hakim, tapi tanpa ada keputusan yang final. Sering juga, karena terlalu banyak bicara, kita tidak pernah mengenal kesendirian dan keheningan jiwa sendiri, yang sangat berharga bagi diri kita.

Kita harus menjaga agar kesendirian dan keheningan diri itu tidak menjadi asing bagi kita. Menjadi orang yang selalu rame memang menyenangkan. Tapi sesungguhnya tidak ada yang orang lebih irikan pada diri kita daripada keteduhan diri kita. Bukankah diam-diam kita begitu iri melihat orang lain yang tetap tenang dan memancarkan kedamaian pada saat begitu keadaan yang sukar atau duka?

Masalahnya memang, penyakit orang kini tidak lagi tahan sendirian. Bagi banyak orang kesepian adalah menyakitkan. Padahal dalam kesendirianlah akan tampak kekuatan kita. Seperti dikatakan oleh Henrik Ibsen dalam An Enemy of the People, "The strongest man in the world is he who stands most alone (Orang yang paling kuat adalah ia yang dapat diam sendiri). Tetapi, dalam kesendirian jugalah akan tampak kelemahan dan kerapuhan kita. Kebiasaan apa yang kita lakukan, apa yang kita baca, apa yang kita tonton, bahkan apa yang kita pikirkan, semuanya itu akan berlomba- lomba datang menawarkan diri pada saat anda sendiri dan kesepian. Tinggal pilihan ada pada kita. Namun, tragisnya, tidak banyak yang mempunyai cukup kekuatan untuk memilih yang dikehendaki, tetapi yang disukai.

Hanya dengan hening menyendiri, kita dapat menyentuh jiwa kita dan... disentuh Tuhan.

Rahasia itulah yang dilukiskan gadis remaja Anne Frank, dalam catatan hariannya dengan mengatakan, "Obat yang paling baik bagi mereka yang takut, kesepian atau tidak bahagia adalah pergi alam terbuka di mana mereka dapat berdiam diri, sendiri dengan langit, alam dan Tuhan. Sebab hanya dengan demikian seseorang merasakan bahwa semua adalah sebagaimana seharusnya -- that all is as it should be (dan mengetahui), bahwa Tuhan ingin melihat manusia berbahagia, ditengah-tengah keindahan alam yang sederhana".

Ketika Ibu Theresa merasakan betapa ia setiap kali perlu menemukan Tuhan, sumber kekuatannya, ia mengatakan, "Dia (Tuhan) tidak dapat ditemukan dalam kebisingan dan keresahan. Tuhan adalah sahabat dari keheningan. Lihatlah bagaimana alam -- pohon, bunga-bunga, rumput yang tumbuh dalam hening; lihatlah bintang-bintang, bulan, dan matahari, bagaimana mereka bergerak dengan hening... Kita membutuhkan kesenyapan dan keheningan... untuk dapat menyentuh jiwa- jiwa".

Memang begitulah seharusnya kita. Hanya dalam keheningan itu jugalah kita dapat mengenal dan menemukan makna hakiki bahwa kerja, kegiatan serta kesibukan kita hanya berarti dalam Tuhan. Karena, (akhirnya) benarlah kata bijak yang mengatakan "Apart from God every activity is merely a passing whiff of insignificance" -- Lepas dari Tuhan setiap kegiatan kita hanyalah ketidakberartian yang berlalu begitu saja! Meninggalkan bukan saja kelesuan, kecapean, tetapi kekosongan. Karena seperti dikatakan C.S. Lewis, yang sebelumnya adalah atheis: "Allah tidak memberi kita kebahagiaan dan damai sejahtera terlepas dari diri-Nya, karena hal itu tidak ada dan tidak pernah ada!"

LIQOOILLAH

Marilah kita renungkan ayat-ayat berikut…



“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabb-mu.” (TQS.13:2)


“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (TQS.29:5)

“Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (ni`mat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.” (TQS.6:154)

Apa Yang Seharusnya kita Lakukan jika Mengharapkan Pertemuan dengan Allah SWT?

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (TQS.18:110)

Bagaimana Nasib Mereka Yang Mendustakan Pertemuan dengan Allah SWT?

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (TQS.6:31)

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.“ (TQS.10:45)

Untuk meraih keheningan hati, apakah harus bertapa di gua-gua, atau di kuburan-kuburan keramat, ataukah di tengah hutan rimba belantara....??

Apakah Anda mau lari dari kenyataan?
Lari dari gigitan paling pedih dari kesunyian ruhani anda?
Lari dari keterlemparan diri anda akibat dosa dan kegelapan?  
"keinginanmu untuk lari menuju Tuhan dan hanya ingin sendiri bersamaNya, hanya ingin 'anda dan Dia', sedangkan kenyataannya anda harus menghadapi dengan alam fikiran, logika sebab akibat, hasrat anda itu tadi hanyalah Nafsu tersembunyi dalam bilik ketololan, kemalasan, ketidak beranian, kepengecutan, dan kelelahan hati anda."


Hadapilah!
Karena Allah tak pernah hilang, tak pernah ghoib, tak pernah berjarak, tak pernah bergerak atau diam, tak pernah berpenjuru atau bernuansa, tak pernah berbentuk dan berupa, tak pernah berwaktu dan ber-ruang. Tak ada alasan apapun yang bisa menutup, menghijabi, menghalangi, menirai Allah dari dirimu, apalagi sekedar untuk "menyendiri bersamaNya" dalam hiruk pikuk dunia. Tanpa harus melepaskan tantangan zaman, perjuangan, kegairahan kehambaan, kita tak pernah terhalang sedetik pun untuk menggelayut di "PundakNya" apalagi bermesraan dalam pelukanNya.

Jika ruang sunyi di hatimu terganggu oleh buar dan suara-suara nafsu, masuklah ke dalam bilih ruhmu, karena dalam bilik ruhmu ada hamparan agung Sirrmu, dimana sunyimu menjadi sirnamu kepadaNya, bahkan tak kau sadari kau panggil-panggil namaNya, karena kau telah berdiri di depan GerbangNya. Kelak kita bisa kembali bersamaNya, untuk melihat dunia nyata yang tampak di mata kepala, "BersamaNya aku melihat mereka," begitu sunyi ungkapan Abu Yazid Bisthami kita.

Inilah awal keberangkatan kita,
menuju tetapi dituju,
memandang tetapi dipandang,
melihat tetapi dilihat,
bergerak tetapi diam fana,
berkata tetapi bisu,
memanggil tetapi dipanggil,
bersyari'at tetapi hakikat,
berhakikat tetapi syari'at,
bertangis dalam senyuman
senyum tak menahan airmata
bersunyi-sunyi tetapi ramai
beramai-ramai tetapi sunyi

Lalu kita berbondong-bondong menempuh jalan Khalwat, menuju Gua Hira Agung tak terperi, Hira' hamparan hati. Agar hati lebih luas dari Arasy Ilahi, berbondong-bondong melepaskan atribut- atribut manusiawi, dan apapun alasan dan alibi kewajaran kita, agar kita tak punya alasan lagi, untuk tidak durhaka kepadaNya, untuk tidak menghindariNya, untuk tidak berselingkuh dengan selain DiriNya, untuk tidak memproduksi bermilyar-milyar syetan setiap hari, untuk tidak menyembah ribuan berhala dalam hati.

Kita keluar dari khalwat menuju Uzlah Jiwa, lihatlah betapa sunyinya keramaian peradaban manusia, betapa senyapnya suara-suara yang berdesing atau bagaikan nyanyian tapi sunyi. Kecuali yang ramai di detak jantungmu, Allah Allah Allah, Subhanallah Walhamdulillah wa-Laailaaha Illallah Allahu Akbar, menyelimuti seluruh keramaian semesta. Sampai semesta sunyi dalam kefanaan, Allahu Akbar! Walillahil Hamd. Maha Puja Puji bagi AbadiNya.

Sumber: Berbagai sumber dan artikel terkait.

heNANG heNING, heNING heNANG KUN

Posted at  04.01  |  in  wawasan umum  |  Read More»


Nang..ning..ning...nang...kung..(heNANG heNING, heNING heNANG KUN) adalah nyayian kecil orang tua dahulu kalau sedang menggendong anaknya atau dikala menimang-nimang anaknya. Ternyata setelah penulis dewasa, penulis menyadari nyanyi-nyanyi kecil orang tua dahulu dikala menimang anaknya ada makna implicit yang sangat dalam sekali setelah dikaji. Karena orang tua dahulu sering memberikan statement, kidung atau nyanyi-nyanyi kecil berupa makna kiasan atau perlambang kehidupan.

Zaman sekarang kebanyakan orang seharian sibuk. Bukankah sebaiknya di dalam kesibukan, kita dapat menyempatkan waktu untuk sesa'at saja menenangkan diri kita, melakukan Zero Mind Process dan mengaktifkan Kekuatan keheningan anda.

Kekuatan Keheningan akan membawa anda ke dalam suasana hening yang membantu Anda melakukan introspeksi diri. Sehingga, dalam keheningan tersebut Anda dapat menelusuri apa sebenarnya visi dan misi hidup hidup di dunia dan bertanya kepada hati nurani apa cara yang lebih baik dari yang sudah kita lakukan saat ini untuk meraih sukses abadi di dunia akherat.

Saat hidup memutar kita bagaikan roda, amat mudah kita tergulung dan terombang-ambing dalam putarannya. Hanya jika kita berdiam di pusatnya, maka sekencang apa pun roda berputar, batin kita tetap hening, dan bening.

Namun roda kehidupan modern yang bergerak sangat cepat seringkali tidak mengizinkan kita untuk diam dan berhenti sejenak. Bahkan kita tidak lagi tahu caranya bernapas dengan sadar, berserah pada inteligensi tubuh, dan beristirahat secara total. Saat tubuh berbaring, pikiran kita berputar. Saat tubuh beraktivitas, pikiran kita bercabang liar. Saat hati berontak, logika kita meredam dan menolak.

Begitu banyak timbunan sampah batin—dari mulai urusan hati yang tak tuntas, trauma yang belum sembuh, sampai segudang rencana dan ketakutan akan masa depan—yang kita gendong dari hari ke hari, tahun ke tahun. Beban ini, jika tidak pernah kita kuras, akan muncul ke permukaan sebagai penyakit fisik, stres, paranoia, dan aneka fenomena lain yang kita sebut sebagai “problem”.

Memang Untuk hidup yang baik, haruslah bekerja. Bahkan bekerja keras adalah keharusan dalam kehidupan. Tanpa kerja keras tidak akan ada keberhasilan. "Saya sangat percaya akan keberuntungan", kata Thomas Jefferson, "tapi saya menemukan bahwa semakin keras saya bekerja, semakin banyak yang saya peroleh dari padanya".

Tetapi tidak jarang orang terjebak dalam kesibukan demi kesibukan tanpa henti, sampai kemudian terhenyak, kecapean, dan bertanya pada diri sendiri, "Saya ini sibuk untuk apa, untuk siapa, dan mengejar apa?"

Dalam kesibukan yang sering terasa tidak habis-habisnya dan membuat waktu terlalu cepat berjalan, kau perlu mengambil waktu untuk berhenti sejenak. Menyendiri. Mendengarkan diri kita sendiri.

Sering tidak disadari, kita (telah) tenggelam atau menenggelamkan diri dalam kesibukan dan hiruk-pikuk sekitar kita, karena alasan yang salah: ingin melupakan hiruk pikuk perbantahan dalam diri kita, di mana kita sendiri berdiri sebagai tersangka, dan hakim, tapi tanpa ada keputusan yang final. Sering juga, karena terlalu banyak bicara, kita tidak pernah mengenal kesendirian dan keheningan jiwa sendiri, yang sangat berharga bagi diri kita.

Kita harus menjaga agar kesendirian dan keheningan diri itu tidak menjadi asing bagi kita. Menjadi orang yang selalu rame memang menyenangkan. Tapi sesungguhnya tidak ada yang orang lebih irikan pada diri kita daripada keteduhan diri kita. Bukankah diam-diam kita begitu iri melihat orang lain yang tetap tenang dan memancarkan kedamaian pada saat begitu keadaan yang sukar atau duka?

Masalahnya memang, penyakit orang kini tidak lagi tahan sendirian. Bagi banyak orang kesepian adalah menyakitkan. Padahal dalam kesendirianlah akan tampak kekuatan kita. Seperti dikatakan oleh Henrik Ibsen dalam An Enemy of the People, "The strongest man in the world is he who stands most alone (Orang yang paling kuat adalah ia yang dapat diam sendiri). Tetapi, dalam kesendirian jugalah akan tampak kelemahan dan kerapuhan kita. Kebiasaan apa yang kita lakukan, apa yang kita baca, apa yang kita tonton, bahkan apa yang kita pikirkan, semuanya itu akan berlomba- lomba datang menawarkan diri pada saat anda sendiri dan kesepian. Tinggal pilihan ada pada kita. Namun, tragisnya, tidak banyak yang mempunyai cukup kekuatan untuk memilih yang dikehendaki, tetapi yang disukai.

Hanya dengan hening menyendiri, kita dapat menyentuh jiwa kita dan... disentuh Tuhan.

Rahasia itulah yang dilukiskan gadis remaja Anne Frank, dalam catatan hariannya dengan mengatakan, "Obat yang paling baik bagi mereka yang takut, kesepian atau tidak bahagia adalah pergi alam terbuka di mana mereka dapat berdiam diri, sendiri dengan langit, alam dan Tuhan. Sebab hanya dengan demikian seseorang merasakan bahwa semua adalah sebagaimana seharusnya -- that all is as it should be (dan mengetahui), bahwa Tuhan ingin melihat manusia berbahagia, ditengah-tengah keindahan alam yang sederhana".

Ketika Ibu Theresa merasakan betapa ia setiap kali perlu menemukan Tuhan, sumber kekuatannya, ia mengatakan, "Dia (Tuhan) tidak dapat ditemukan dalam kebisingan dan keresahan. Tuhan adalah sahabat dari keheningan. Lihatlah bagaimana alam -- pohon, bunga-bunga, rumput yang tumbuh dalam hening; lihatlah bintang-bintang, bulan, dan matahari, bagaimana mereka bergerak dengan hening... Kita membutuhkan kesenyapan dan keheningan... untuk dapat menyentuh jiwa- jiwa".

Memang begitulah seharusnya kita. Hanya dalam keheningan itu jugalah kita dapat mengenal dan menemukan makna hakiki bahwa kerja, kegiatan serta kesibukan kita hanya berarti dalam Tuhan. Karena, (akhirnya) benarlah kata bijak yang mengatakan "Apart from God every activity is merely a passing whiff of insignificance" -- Lepas dari Tuhan setiap kegiatan kita hanyalah ketidakberartian yang berlalu begitu saja! Meninggalkan bukan saja kelesuan, kecapean, tetapi kekosongan. Karena seperti dikatakan C.S. Lewis, yang sebelumnya adalah atheis: "Allah tidak memberi kita kebahagiaan dan damai sejahtera terlepas dari diri-Nya, karena hal itu tidak ada dan tidak pernah ada!"

LIQOOILLAH

Marilah kita renungkan ayat-ayat berikut…



“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabb-mu.” (TQS.13:2)


“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (TQS.29:5)

“Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (ni`mat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.” (TQS.6:154)

Apa Yang Seharusnya kita Lakukan jika Mengharapkan Pertemuan dengan Allah SWT?

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (TQS.18:110)

Bagaimana Nasib Mereka Yang Mendustakan Pertemuan dengan Allah SWT?

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (TQS.6:31)

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.“ (TQS.10:45)

Untuk meraih keheningan hati, apakah harus bertapa di gua-gua, atau di kuburan-kuburan keramat, ataukah di tengah hutan rimba belantara....??

Apakah Anda mau lari dari kenyataan?
Lari dari gigitan paling pedih dari kesunyian ruhani anda?
Lari dari keterlemparan diri anda akibat dosa dan kegelapan?  
"keinginanmu untuk lari menuju Tuhan dan hanya ingin sendiri bersamaNya, hanya ingin 'anda dan Dia', sedangkan kenyataannya anda harus menghadapi dengan alam fikiran, logika sebab akibat, hasrat anda itu tadi hanyalah Nafsu tersembunyi dalam bilik ketololan, kemalasan, ketidak beranian, kepengecutan, dan kelelahan hati anda."


Hadapilah!
Karena Allah tak pernah hilang, tak pernah ghoib, tak pernah berjarak, tak pernah bergerak atau diam, tak pernah berpenjuru atau bernuansa, tak pernah berbentuk dan berupa, tak pernah berwaktu dan ber-ruang. Tak ada alasan apapun yang bisa menutup, menghijabi, menghalangi, menirai Allah dari dirimu, apalagi sekedar untuk "menyendiri bersamaNya" dalam hiruk pikuk dunia. Tanpa harus melepaskan tantangan zaman, perjuangan, kegairahan kehambaan, kita tak pernah terhalang sedetik pun untuk menggelayut di "PundakNya" apalagi bermesraan dalam pelukanNya.

Jika ruang sunyi di hatimu terganggu oleh buar dan suara-suara nafsu, masuklah ke dalam bilih ruhmu, karena dalam bilik ruhmu ada hamparan agung Sirrmu, dimana sunyimu menjadi sirnamu kepadaNya, bahkan tak kau sadari kau panggil-panggil namaNya, karena kau telah berdiri di depan GerbangNya. Kelak kita bisa kembali bersamaNya, untuk melihat dunia nyata yang tampak di mata kepala, "BersamaNya aku melihat mereka," begitu sunyi ungkapan Abu Yazid Bisthami kita.

Inilah awal keberangkatan kita,
menuju tetapi dituju,
memandang tetapi dipandang,
melihat tetapi dilihat,
bergerak tetapi diam fana,
berkata tetapi bisu,
memanggil tetapi dipanggil,
bersyari'at tetapi hakikat,
berhakikat tetapi syari'at,
bertangis dalam senyuman
senyum tak menahan airmata
bersunyi-sunyi tetapi ramai
beramai-ramai tetapi sunyi

Lalu kita berbondong-bondong menempuh jalan Khalwat, menuju Gua Hira Agung tak terperi, Hira' hamparan hati. Agar hati lebih luas dari Arasy Ilahi, berbondong-bondong melepaskan atribut- atribut manusiawi, dan apapun alasan dan alibi kewajaran kita, agar kita tak punya alasan lagi, untuk tidak durhaka kepadaNya, untuk tidak menghindariNya, untuk tidak berselingkuh dengan selain DiriNya, untuk tidak memproduksi bermilyar-milyar syetan setiap hari, untuk tidak menyembah ribuan berhala dalam hati.

Kita keluar dari khalwat menuju Uzlah Jiwa, lihatlah betapa sunyinya keramaian peradaban manusia, betapa senyapnya suara-suara yang berdesing atau bagaikan nyanyian tapi sunyi. Kecuali yang ramai di detak jantungmu, Allah Allah Allah, Subhanallah Walhamdulillah wa-Laailaaha Illallah Allahu Akbar, menyelimuti seluruh keramaian semesta. Sampai semesta sunyi dalam kefanaan, Allahu Akbar! Walillahil Hamd. Maha Puja Puji bagi AbadiNya.

Sumber: Berbagai sumber dan artikel terkait.

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 04.01

3 Januari 2013


Dalam memahami alam fisik dari quark – atom – unsur – molekul organik/anorganik – sampai jagad raya ini, kita tidak dapat meninggalkan pengertian mengenai ruang dan waktu. Pengertian ruang dan waktu menurut para ahli seperti yang dikemukakan dalam Kattsoff (1996) adalah sebagai berikut :

Menurut ajaran Newton ruang dan waktu adalah objektif, mutlak dan bersifat universal. Ruang mempunyai tiga matra, yaitu atas-bawah, depan belakang, kiri kanan. Sedangkan waktu hanya bermatra depan belakang. Di dalam ruang kita dapat pergi ke setiap arah; di dalam waktu kita hanya dapat pergi ke depan. Untuk dapat menjelaskan bahwa ruang dan waktu bersifat mutlak, maka Newton mengemukakan hukum gerakan yang hakiki dari fisika kuno sebagai berikut :”Suatu benda terus berada dalam keadaan diam atau bergerak, kecuali apabila mendapat pengaruh dari suatu keadaan yang terdapat di luar dirinya. Jika sesuatu benda dalam keadaan bergerak, maka ia akan tetap bergerak, kecuali jika ada sesuatu – sesuatu kekuatan – yang mengubah gerakan tersebut. Gerakan merupakan akibat suatu kekuatan yang mempengaruhi massa”. Jadi di sini gerakan bersifat mutlak yang terjadi di dalam ruang dan waktu; dengan demikian ruang dan waktu juga bersifat mutlak.

Gagasan-gagasan mengenai ruang dan waktu yang bersifat mutlak di atas ternyata menemui kesukaran-kesukaran karena timbulnya paradoks-paradoks maupun setelah ditemukannya hukum relativitas oleh Einstein serta kesukaran-kesukaran dalam pengamatan.

Paradoks yang terkenal dikemukakan oleh Zeno (kira-kira 490 – 430 S.M.), ia menyatakan bahwa banyak keganjilan akan terjadi jika orang mengatakan bahwa gerakan merupakan suatu kenyataan. Salah satu paradoks dikemukakan di sini yaitu “anak panah yang melayang” (Jika kita memiliki anak panah ukuran 3 meter berarti menempati ruang sepanjang 3 meter, kemudian anak panah itu kita lepaskan dan bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Setiap saat dalam keadaan melayang anak panah tersebut tetap berukuran 3 meter berarti menempati ruang sepanjang 3 meter. Sedangkan kita mengatakan bahwa berukuran sepanjang 3 meter berarti menempati ruang sepanjang 3 meter dan berhubung dengan itu, maka setiap saat dalam keadaan melayang anak panah tersebut berada dalam keadaan diam. Maka dalam hal ini terdapat suatu contradictio in terminis).

Kesukaran berkenan dengan pengamatan, misalnya apakah benar sesuatu yang terlihat antara dua obyek adalah suatu ruang ?. Gambaran pengamatan pada bola mata kita bermatra dua, dan jarak (ruang) yang kita alami berasal dari tangkapan indrawi dalam otot mata. Ini berarti bahwa yang kita tangkap itu bukanlah ruang sebagai kenyataan, melainkan sekedar jarak-jarak yang memisahkan obyek-obyek, karena seandainya tidak terdapat obyek di situ, maka tidak ada sesuatupun yang kita lihat. Jika demikian, maka gerakan , waktu dan ruang mengacu pada suatu obyek tertentu. Jadi jika tidak ada obyek, maka tidak mungkin kita dapat menangkap ruang, waktu dan gerakan yang mutlak dalam kenyataannya.

Menurut ajaran Einstein, ruang dan waktu bersifat relatif. Ruang tergantung pada pengamatnya. Ruang merupakan semacam hubungan antara benda-benda yang diukur dengan cara-cara tertentu. Dengan demikian apabila pengukurannya dilakukan dengan cara yang berbeda, maka hasilnyapun akan berbeda. 

Waktu juga bersifat relatif karena hasil pengukuran terhadap hubungan-hubungan yang menyangkut waktu tergantung pada pengertian keserampakan (simultaneity); karena apabila sesuatu terjadi, misalnya ledakan, maka kuatnya bunyi ledakan akan berbeda di berbagai tempat. 

Selanjutnya H.A. Lorentz membuat suatu teori “ persamaan transformasi” yang melukiskan hubungan antara cara-cara pengukuran jarak – juga cara-cara pengukuran waktu – yang menyangkut dua pengamat yang mempunyai kerangka acuan yang berbeda dan berada dalam keadaan bergerak secara lurus, yang saling mendekati.

Di sini didapatkan sebenarnya jarak merupakan sekedar ukuran untuk menentukan ruang; demikianpun dengan transformasi dengan waktu dan hubungannya dengan ruang; Kita tidak akan pernah mengetahui waktu secara tepat apabila tidak memperhitungkan koordinat ruang dan sebaliknya kita tidak akan mengetahui ruang dari suatu obyek bila tidak memperhitungkan koordinat waktu. Sesungguhnya tidak ada waktu yang bersifat mandiri / mutlak, tidak ada ruang yang terpisah dari waktu atau waktu yang terpisah dari ruang yang ada hanyalah ruang-waktu. Akhirnya mulai saat ini kita harus memandang ruang dan waktu secara kontinuum, jalin-menjalin secara tidak terpisahkan, yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lainnya; keduanya merupakan satu kesatuan yang menyebabkan timbulnya segenap kenyataan. Dengan demikian waktu, ruang merupakan sekedar matra dari ruang-waktu.

Menurut Alexander, jika kita berusaha memehami ruang dan waktu dalam keadaan apa adanya, maka yang terjadi ialah bahwa kita berusaha memahami benda-benda serta kejadian-kejadian dalam keadaannya yang paling sederhana serta paling mendasar dalam ruang (extension) serta bertahan dalam waktu (enduring), dengan segenap sifat-sifat yang dipunyai oleh kedua macam ciri tersebut. Baik ruang maupun waktu tidak berada sendiri-sendiri secara terpisah, dan kedua-duanya tampil di depan kita secara empiris. Jika tidak ada waktu, maka tidak mungkin ada bagian dari ruang, bahkan yang ada hanyalah kehampaan belaka; dan demikian pula halnya dengan ruang, dalam hubungannya dengan waktu.

Selanjutnya, sehubungan dengan itu tidak mungkin ada titik-titik yang menyusun ruang, tanpa sekelumit waktu yang dapat menimbulkan gagasan kejadian-kejadian murni (pure events) sehingga dapatlah dikatakan bahwa ruang – waktu merupakan keadaan yang nyata yang paling dalam dan merupakan tempat persemaian bagi apa saja yang ada di alam ini. Ruang dan waktu merupakan sesuatu yang menjadi sumber bagi adanya segala sesuatu, sedangkan kejadian-kejadian yang murni merupakan penyusun terdalam dari apa saja yang bereksistensi. Apabila kejadian-kejadian murni tersebut membentuk suatu pola tertentu, maka munculah kualitas-kualitas fisik tertentu, misalnya sebuah elektron dengan ciri-cirinya. Jadi materi merupakan sesuatu yang pertama-tama muncul dari ruang – waktu.

Sebagai contoh kita perhatikan partikel subatom, seperti sebuah electron. Bagaimana kita menggambarkan partikel tersebut ? Tidak seorangpun dapat melihat suatu partikel subatom; partikel ini mungkin berupa sejenis perubahan dalam ruang pada suatu waktu tertentu; artinya suatu kejadian yang murni yang hanya dapat disimak melalui kejadian-kejadian tertentu yang dicatat oleh “ pointer-reading”, misalnya oleh instrumen mikroskop elektron. Hasil-hasil penggabungan kejadian-kejadian murni menimbulkan materi yang lebih rumit dan mempunyai sifat-sifat tertentu pula.

Sumber: berbagai sumber dan artikel terkait

Penjelasan tentang teori relativitas dimensi ruang dan waktu

Posted at  21.28  |  in  wawasan umum  |  Read More»


Dalam memahami alam fisik dari quark – atom – unsur – molekul organik/anorganik – sampai jagad raya ini, kita tidak dapat meninggalkan pengertian mengenai ruang dan waktu. Pengertian ruang dan waktu menurut para ahli seperti yang dikemukakan dalam Kattsoff (1996) adalah sebagai berikut :

Menurut ajaran Newton ruang dan waktu adalah objektif, mutlak dan bersifat universal. Ruang mempunyai tiga matra, yaitu atas-bawah, depan belakang, kiri kanan. Sedangkan waktu hanya bermatra depan belakang. Di dalam ruang kita dapat pergi ke setiap arah; di dalam waktu kita hanya dapat pergi ke depan. Untuk dapat menjelaskan bahwa ruang dan waktu bersifat mutlak, maka Newton mengemukakan hukum gerakan yang hakiki dari fisika kuno sebagai berikut :”Suatu benda terus berada dalam keadaan diam atau bergerak, kecuali apabila mendapat pengaruh dari suatu keadaan yang terdapat di luar dirinya. Jika sesuatu benda dalam keadaan bergerak, maka ia akan tetap bergerak, kecuali jika ada sesuatu – sesuatu kekuatan – yang mengubah gerakan tersebut. Gerakan merupakan akibat suatu kekuatan yang mempengaruhi massa”. Jadi di sini gerakan bersifat mutlak yang terjadi di dalam ruang dan waktu; dengan demikian ruang dan waktu juga bersifat mutlak.

Gagasan-gagasan mengenai ruang dan waktu yang bersifat mutlak di atas ternyata menemui kesukaran-kesukaran karena timbulnya paradoks-paradoks maupun setelah ditemukannya hukum relativitas oleh Einstein serta kesukaran-kesukaran dalam pengamatan.

Paradoks yang terkenal dikemukakan oleh Zeno (kira-kira 490 – 430 S.M.), ia menyatakan bahwa banyak keganjilan akan terjadi jika orang mengatakan bahwa gerakan merupakan suatu kenyataan. Salah satu paradoks dikemukakan di sini yaitu “anak panah yang melayang” (Jika kita memiliki anak panah ukuran 3 meter berarti menempati ruang sepanjang 3 meter, kemudian anak panah itu kita lepaskan dan bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Setiap saat dalam keadaan melayang anak panah tersebut tetap berukuran 3 meter berarti menempati ruang sepanjang 3 meter. Sedangkan kita mengatakan bahwa berukuran sepanjang 3 meter berarti menempati ruang sepanjang 3 meter dan berhubung dengan itu, maka setiap saat dalam keadaan melayang anak panah tersebut berada dalam keadaan diam. Maka dalam hal ini terdapat suatu contradictio in terminis).

Kesukaran berkenan dengan pengamatan, misalnya apakah benar sesuatu yang terlihat antara dua obyek adalah suatu ruang ?. Gambaran pengamatan pada bola mata kita bermatra dua, dan jarak (ruang) yang kita alami berasal dari tangkapan indrawi dalam otot mata. Ini berarti bahwa yang kita tangkap itu bukanlah ruang sebagai kenyataan, melainkan sekedar jarak-jarak yang memisahkan obyek-obyek, karena seandainya tidak terdapat obyek di situ, maka tidak ada sesuatupun yang kita lihat. Jika demikian, maka gerakan , waktu dan ruang mengacu pada suatu obyek tertentu. Jadi jika tidak ada obyek, maka tidak mungkin kita dapat menangkap ruang, waktu dan gerakan yang mutlak dalam kenyataannya.

Menurut ajaran Einstein, ruang dan waktu bersifat relatif. Ruang tergantung pada pengamatnya. Ruang merupakan semacam hubungan antara benda-benda yang diukur dengan cara-cara tertentu. Dengan demikian apabila pengukurannya dilakukan dengan cara yang berbeda, maka hasilnyapun akan berbeda. 

Waktu juga bersifat relatif karena hasil pengukuran terhadap hubungan-hubungan yang menyangkut waktu tergantung pada pengertian keserampakan (simultaneity); karena apabila sesuatu terjadi, misalnya ledakan, maka kuatnya bunyi ledakan akan berbeda di berbagai tempat. 

Selanjutnya H.A. Lorentz membuat suatu teori “ persamaan transformasi” yang melukiskan hubungan antara cara-cara pengukuran jarak – juga cara-cara pengukuran waktu – yang menyangkut dua pengamat yang mempunyai kerangka acuan yang berbeda dan berada dalam keadaan bergerak secara lurus, yang saling mendekati.

Di sini didapatkan sebenarnya jarak merupakan sekedar ukuran untuk menentukan ruang; demikianpun dengan transformasi dengan waktu dan hubungannya dengan ruang; Kita tidak akan pernah mengetahui waktu secara tepat apabila tidak memperhitungkan koordinat ruang dan sebaliknya kita tidak akan mengetahui ruang dari suatu obyek bila tidak memperhitungkan koordinat waktu. Sesungguhnya tidak ada waktu yang bersifat mandiri / mutlak, tidak ada ruang yang terpisah dari waktu atau waktu yang terpisah dari ruang yang ada hanyalah ruang-waktu. Akhirnya mulai saat ini kita harus memandang ruang dan waktu secara kontinuum, jalin-menjalin secara tidak terpisahkan, yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lainnya; keduanya merupakan satu kesatuan yang menyebabkan timbulnya segenap kenyataan. Dengan demikian waktu, ruang merupakan sekedar matra dari ruang-waktu.

Menurut Alexander, jika kita berusaha memehami ruang dan waktu dalam keadaan apa adanya, maka yang terjadi ialah bahwa kita berusaha memahami benda-benda serta kejadian-kejadian dalam keadaannya yang paling sederhana serta paling mendasar dalam ruang (extension) serta bertahan dalam waktu (enduring), dengan segenap sifat-sifat yang dipunyai oleh kedua macam ciri tersebut. Baik ruang maupun waktu tidak berada sendiri-sendiri secara terpisah, dan kedua-duanya tampil di depan kita secara empiris. Jika tidak ada waktu, maka tidak mungkin ada bagian dari ruang, bahkan yang ada hanyalah kehampaan belaka; dan demikian pula halnya dengan ruang, dalam hubungannya dengan waktu.

Selanjutnya, sehubungan dengan itu tidak mungkin ada titik-titik yang menyusun ruang, tanpa sekelumit waktu yang dapat menimbulkan gagasan kejadian-kejadian murni (pure events) sehingga dapatlah dikatakan bahwa ruang – waktu merupakan keadaan yang nyata yang paling dalam dan merupakan tempat persemaian bagi apa saja yang ada di alam ini. Ruang dan waktu merupakan sesuatu yang menjadi sumber bagi adanya segala sesuatu, sedangkan kejadian-kejadian yang murni merupakan penyusun terdalam dari apa saja yang bereksistensi. Apabila kejadian-kejadian murni tersebut membentuk suatu pola tertentu, maka munculah kualitas-kualitas fisik tertentu, misalnya sebuah elektron dengan ciri-cirinya. Jadi materi merupakan sesuatu yang pertama-tama muncul dari ruang – waktu.

Sebagai contoh kita perhatikan partikel subatom, seperti sebuah electron. Bagaimana kita menggambarkan partikel tersebut ? Tidak seorangpun dapat melihat suatu partikel subatom; partikel ini mungkin berupa sejenis perubahan dalam ruang pada suatu waktu tertentu; artinya suatu kejadian yang murni yang hanya dapat disimak melalui kejadian-kejadian tertentu yang dicatat oleh “ pointer-reading”, misalnya oleh instrumen mikroskop elektron. Hasil-hasil penggabungan kejadian-kejadian murni menimbulkan materi yang lebih rumit dan mempunyai sifat-sifat tertentu pula.

Sumber: berbagai sumber dan artikel terkait

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 21.28

Anak indigo didefinisikan sebagai anak yang menunjukkan kelebihan karena memiliki kemampuan supranatural karena sudah sejak lahir sudah terbuka mata ketiganya. Pola perilakunya juga tidak umum sehingga mengisyaratkan agar orang-orang yang berinteraksi dengan mereka (para orangtua, khususnya) mengubah perlakuan dan pengasuhan terhadap mereka guna mencapai keseimbangan. 

Sebelum membahas lebih jauh tentang anak-anak indigo, alangkah baiknya kita mengetahui dulu mengenai warna indigo yang dimaksud pada anak-anak indigo. Warna indigo adalah warna yang dominan dari warna aura (warna biru-merah).

Warna Indigo menunjukkan cakra mata ketiga, pusat aktivitas dari enerji psikis, yang terbuka pada anak-anak Indigo. Anak-anak Indigo memahami perbedaan yang sangat tipis antara dunia kasat dan dunia spiritual, dan mereka memiliki kemampuan untuk mengakses informasi dari sini, yang orang lain tidak mampu. Kebanyakan perilaku anak Indigo dapat dipahami dari aspek ini.

Banyak anak-anak sekarang yang terkategorikan sebagai Anak Indigo, juga disebut “Children of the Sun” oleh para ahli dari Amerika. Atau disebut juga sebagai “Millennium Children”. Para ahli mengatakan lebih dari 90% (di lain buku menyebutkan lebih dari 80 %) dari anak-anak di bawah 12 tahun, dan beberapa mengatakan walau dalam persentase yang tidak besar terdapat Indigo dewasa.

Anak-anak ini teridentifikasi melalui adanya karakteristik yang unik. Mereka cerdas dan kreatif, namun bersifat sulit diatur pada kekuasaan dan sistem secara umum. Mereka sering disalah diagnosa sebagai ADD (Attention Deficit Disorder = atau Gangguan Kekurangan Perhatian) atau ADHD (Attention Deficit Hyperaktive Disorder = Gangguan Hiperaktif Kekurangan Perhatian) yang membutuhkan terapi untuk mengatasi sifatnya.

Secara fisik dan emosional mereka sangat sensitif. Mereka juga sangat perhatian dan empati terhadap orang lain, juga beberapa menjadi terlihat tidak berperasaan. Anak Indigo dapat mudah marah dan kasar, mereka membutuhkan keyakinan bahwa dirinya diterima dan memerlukan konseling. Indigo juga mempunyai rasa depresi di usia muda jika mereka merasa tidak mengapa mereka dilahirkan atau merasa tidak mempu berbuat apa-apa untuk memperbaiki dunia.

Bagi yang ingin mengetahui apakah anaknya atau diri sendiri termasuk seorang Indigo, bisa mencocokkan karakteristik anak Indigo dan Indigo dewasa berikut ini. Selain itu biasanya seorang anak Indigo tergolong anak yang istimewa (biasanya memiliki IQ -Intelligence Quotient- lebih dari 120 dan mempunyai kecenderungan mempunyai kemampuan supranatural) namun seringkali mempunyai permasalahan dengan sistem belajar di sekolah pada umumnya.

Sebagai konsep di bidang para psikologi, “Anak indigo” dikembangkan oleh Nancy Tappe Anne, yang menggambarkan anak-anak yang diduga memiliki kemampuan dan ciri-ciri khusus. Anak indigo diyakini menjadi tahap awal dalam evolusi manusia sebelum memiliki kemampuan paranormal, seperti telepati, mampu melihat makhluk gaib, meramal dan lainnya. Namun mereka memiliki kekurangan yaitu kurang lancar berkomunikasi.

Anne Nancy Tappe, pada tahun 1970-an mempublikasikan buku Understanding Your Life Through Color memaparkan selama pertengahan 1960-an ia mulai menyadari bahwa banyak anak-anak yang lahir dengan aura “indigo” dan warna nila berasal dari “warna kehidupan” dari anak-anak yang diperoleh melalui sinestesia.

Gagasan tentang anak indigo kemudian berlanjut pada tahun 1998 yang dipopulerkan oleh buku The Indigo Children: The New Kids Have Arrived, yang ditulis oleh suami dan istri dosen self-help Lee Carroll dan Jan Tober. Konsep lain dikembangkan Carroll Tober. Ia menjelaskan kehadiran anak-anak indigo adalah untuk membentuk kembali dunia menjadi satu karena perang, sampah dan makanan olahan.

Pada tahun 2002, sebuah konferensi internasional tentang anak indigo diadakan di Hawaii, yang diikuti 600 peserta. Konferensi berikutnya berlangsung di Florida dan Oregon. Konsep ini dipopulerkan dan menyebar lebih lanjut dengan film dan dokumenter dirilis pada tahun 2005, keduanya disutradarai oleh James Twyman, penulis Zaman Baru.

Secara umum, anak-anak indigo memiliki karakter di antaranya keyakinan penuh empati, rasa ingin tahu yang tinggi, memiliki makna yang jelas mengenai definisi diri dan tujuan hidup, berkemauan keras, mandiri, sering dianggap oleh teman-teman atau keluarga sebagai aneh, dan juga menunjukkan kecenderungan yang kuat terhadap hal-hal rohani (misalnya Tuhan) dari anak usia dini. Anak-anak indigo juga digambarkan sebagai memiliki perasaan yang kuat, merasa memiliki hak untuk berada di sini. Ciri lainnya adalah memiliki intelligence quotient yang tinggi, kemampuan intuitif yang melekat, dan perlawanan terhadap otoritas.

Menurut Carroll dan Tober, anak-anak indigo susah masuk di sekolah-sekolah konvensional karena penolakan mereka terhadap otoritas, menjadi lebih pintar daripada guru-guru mereka dan kurangnya respon terhadap rasa bersalah, takut dam susah oleh malipulasi berbasis disiplin.

Dalam Dallas Observer ada artikel yang membahas anak-anak indigo, seorang reporter mencatat interaksi antara seorang pria yang bekerja dengan anak-anak indigo, dan seorang yang mengaku sebagai anak indigo:  “Apakah Anda seorang indigo?” Reporter bertanya pada seorang anak bernama Senja. Anak itu menatapnya malu-malu dan mengangguk. “I’m an avatar,” kata Senja. “Saya dapat mengenali empat unsur bumi, angin, air dan api. Saya tidak akan datang selama 100 tahun.” Pria itu tampak terkesan.

Pembaca dari Dallas Observer kemudian menulis di koran untuk menginformasikan bahwa respons anak tampaknya diambil dari alur cerita Avatar: The Last Airbender; kartun anak-anak yang ditampilkan di Nickelodeon.

Nick Colangelo, seorang profesor Universitas Iowa yang mengkhususkan diri dalam pendidikan anak-anak berbakat, menyatakan bahwa buku Indigo pertama seharusnya tidak diterbitkan, dan bahwa “..gerakan anak-anak indigo bukanlah tentang anak-anak, dan tidak tentang warna nila. Ini adalah tentang orang dewasa yang ahli membuat uang di buku, presentasi dan video.”

Mempunyai kemampuan psikis/supranatural.
Mengekspresikan kemarahan dan mempunyai masalah dengan menahan amarah.
Membutuhkan dukungan untuk menemukan diri mereka.
Kreatifitasnya tinggi.
Mudah teralihkan perhatiannya, bisa mengerjakan banyak hal bersamaan.
Menunjukan intuisi yang kuat.
Punya empati yang kuat terhadap sesama, atau tidak punya empati sama sekali.
Sangat berbakat dan rata-rata sangat pintar.
Susah konsentrasi dan hiperaktif.
Mempunyai visi dan cita-cita yang kuat.
Mempunyai kesadaran diri yg tinggi, terhubung dengan sumber (Tuhan).
Mengerti jika dirinya layak untuk berada di dunia.
Mempunyai pengertian yang jelas akan dirinya.
Tidak nyaman dengan disiplin dan cara yang otoriter tanpa alasan yang jelas.
Menolak mengikuti aturan atau petunjuk.
Tidak sabaran dan tidak suka bila harus menunggu.
Frustasi dengan sistem yang sifatnya ritual dan tidak kreatif.
Mereka punya cara yg lebih baik dlm menyelesaikan masalah.
Sebagian besar adalah orang yg menimbulkan rasa tidak nyaman.
Tidak bisa menerima hukuman yang tanpa alasan, selalu ingin alasan yang jelas.
Mudah bosan dengan tugas yg diberikan.
Pandangan mata mereka terlihat, bijaksana, mendalam dan tua.

Frustasi dengan budaya populer.
Tidak terima bila hak-hak mereka diambil atau diinjak-injak.
Punya hasrat yang membara untuk merubah dunia, tapi kesulitan menemukan jalurnya.
Mempunyai ketertarikan akan hal spiritual dan kemampuan psikis saat usia muda.
Punya beberapa “Role model” Indigo.
Punya intuisi yang kuat.
Punya sifat atau jalan pikir yang tidak biasa, sulit fokus pada tugas, atau meloncat-loncat di tengah pembicaraan.
Pernah mengalami pengalaman spiritual, psikis dan lainnya.
Sensitif terhadap yang berhubungan dengan listrik.
Mempunyai kesadaran akan dimensi lain.
Secara seksual sangat ekspresif atau malah menolak seksualitas aga bisa mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Mencari arti hidup mereka dan mengerti tentang dunia, mereka bisa mencarinya dengan melalui agama, buku.
Waktu mereka merasa diri mereka seimbang, mereka akan menjadi kuat, sehat, dan individu yang bahagia.
Mereka pintar walaupun tidak selalu berada di tingkatan paling atas.
Kreatif dan sangat menikmati menciptakan sesuatu.
Selalu ingin tahu kenapa, khususnya jika mereka disuruh melakukan sesuatu.
Muak akan pekerjaan yang banyak dan berulang-ulang di sekolah.
Pemberontak di sekolah/kampus, menolak mengerjakan tugas atau ingin memberontak tapi tidak berani karena ada tekanan dari orang tua.
Punya masalah dengan keberadaan, seperti tidak diterima, atau terasing. Biasanya menimbulkan perasaan ingin bunuh diri, tapi tidak benar-benar melakukannnya.
Punya masalah dengan amarah.
Tidak nyaman dengan politik karena merasa suara mereka tidak dihitung, dan tidak peduli dengan hasil yang keluar.

Sumber: Artikel terkait

Indigo child dan karakteristiknya

Posted at  19.49  |  in  wawasan umum  |  Read More»


Anak indigo didefinisikan sebagai anak yang menunjukkan kelebihan karena memiliki kemampuan supranatural karena sudah sejak lahir sudah terbuka mata ketiganya. Pola perilakunya juga tidak umum sehingga mengisyaratkan agar orang-orang yang berinteraksi dengan mereka (para orangtua, khususnya) mengubah perlakuan dan pengasuhan terhadap mereka guna mencapai keseimbangan. 

Sebelum membahas lebih jauh tentang anak-anak indigo, alangkah baiknya kita mengetahui dulu mengenai warna indigo yang dimaksud pada anak-anak indigo. Warna indigo adalah warna yang dominan dari warna aura (warna biru-merah).

Warna Indigo menunjukkan cakra mata ketiga, pusat aktivitas dari enerji psikis, yang terbuka pada anak-anak Indigo. Anak-anak Indigo memahami perbedaan yang sangat tipis antara dunia kasat dan dunia spiritual, dan mereka memiliki kemampuan untuk mengakses informasi dari sini, yang orang lain tidak mampu. Kebanyakan perilaku anak Indigo dapat dipahami dari aspek ini.

Banyak anak-anak sekarang yang terkategorikan sebagai Anak Indigo, juga disebut “Children of the Sun” oleh para ahli dari Amerika. Atau disebut juga sebagai “Millennium Children”. Para ahli mengatakan lebih dari 90% (di lain buku menyebutkan lebih dari 80 %) dari anak-anak di bawah 12 tahun, dan beberapa mengatakan walau dalam persentase yang tidak besar terdapat Indigo dewasa.

Anak-anak ini teridentifikasi melalui adanya karakteristik yang unik. Mereka cerdas dan kreatif, namun bersifat sulit diatur pada kekuasaan dan sistem secara umum. Mereka sering disalah diagnosa sebagai ADD (Attention Deficit Disorder = atau Gangguan Kekurangan Perhatian) atau ADHD (Attention Deficit Hyperaktive Disorder = Gangguan Hiperaktif Kekurangan Perhatian) yang membutuhkan terapi untuk mengatasi sifatnya.

Secara fisik dan emosional mereka sangat sensitif. Mereka juga sangat perhatian dan empati terhadap orang lain, juga beberapa menjadi terlihat tidak berperasaan. Anak Indigo dapat mudah marah dan kasar, mereka membutuhkan keyakinan bahwa dirinya diterima dan memerlukan konseling. Indigo juga mempunyai rasa depresi di usia muda jika mereka merasa tidak mengapa mereka dilahirkan atau merasa tidak mempu berbuat apa-apa untuk memperbaiki dunia.

Bagi yang ingin mengetahui apakah anaknya atau diri sendiri termasuk seorang Indigo, bisa mencocokkan karakteristik anak Indigo dan Indigo dewasa berikut ini. Selain itu biasanya seorang anak Indigo tergolong anak yang istimewa (biasanya memiliki IQ -Intelligence Quotient- lebih dari 120 dan mempunyai kecenderungan mempunyai kemampuan supranatural) namun seringkali mempunyai permasalahan dengan sistem belajar di sekolah pada umumnya.

Sebagai konsep di bidang para psikologi, “Anak indigo” dikembangkan oleh Nancy Tappe Anne, yang menggambarkan anak-anak yang diduga memiliki kemampuan dan ciri-ciri khusus. Anak indigo diyakini menjadi tahap awal dalam evolusi manusia sebelum memiliki kemampuan paranormal, seperti telepati, mampu melihat makhluk gaib, meramal dan lainnya. Namun mereka memiliki kekurangan yaitu kurang lancar berkomunikasi.

Anne Nancy Tappe, pada tahun 1970-an mempublikasikan buku Understanding Your Life Through Color memaparkan selama pertengahan 1960-an ia mulai menyadari bahwa banyak anak-anak yang lahir dengan aura “indigo” dan warna nila berasal dari “warna kehidupan” dari anak-anak yang diperoleh melalui sinestesia.

Gagasan tentang anak indigo kemudian berlanjut pada tahun 1998 yang dipopulerkan oleh buku The Indigo Children: The New Kids Have Arrived, yang ditulis oleh suami dan istri dosen self-help Lee Carroll dan Jan Tober. Konsep lain dikembangkan Carroll Tober. Ia menjelaskan kehadiran anak-anak indigo adalah untuk membentuk kembali dunia menjadi satu karena perang, sampah dan makanan olahan.

Pada tahun 2002, sebuah konferensi internasional tentang anak indigo diadakan di Hawaii, yang diikuti 600 peserta. Konferensi berikutnya berlangsung di Florida dan Oregon. Konsep ini dipopulerkan dan menyebar lebih lanjut dengan film dan dokumenter dirilis pada tahun 2005, keduanya disutradarai oleh James Twyman, penulis Zaman Baru.

Secara umum, anak-anak indigo memiliki karakter di antaranya keyakinan penuh empati, rasa ingin tahu yang tinggi, memiliki makna yang jelas mengenai definisi diri dan tujuan hidup, berkemauan keras, mandiri, sering dianggap oleh teman-teman atau keluarga sebagai aneh, dan juga menunjukkan kecenderungan yang kuat terhadap hal-hal rohani (misalnya Tuhan) dari anak usia dini. Anak-anak indigo juga digambarkan sebagai memiliki perasaan yang kuat, merasa memiliki hak untuk berada di sini. Ciri lainnya adalah memiliki intelligence quotient yang tinggi, kemampuan intuitif yang melekat, dan perlawanan terhadap otoritas.

Menurut Carroll dan Tober, anak-anak indigo susah masuk di sekolah-sekolah konvensional karena penolakan mereka terhadap otoritas, menjadi lebih pintar daripada guru-guru mereka dan kurangnya respon terhadap rasa bersalah, takut dam susah oleh malipulasi berbasis disiplin.

Dalam Dallas Observer ada artikel yang membahas anak-anak indigo, seorang reporter mencatat interaksi antara seorang pria yang bekerja dengan anak-anak indigo, dan seorang yang mengaku sebagai anak indigo:  “Apakah Anda seorang indigo?” Reporter bertanya pada seorang anak bernama Senja. Anak itu menatapnya malu-malu dan mengangguk. “I’m an avatar,” kata Senja. “Saya dapat mengenali empat unsur bumi, angin, air dan api. Saya tidak akan datang selama 100 tahun.” Pria itu tampak terkesan.

Pembaca dari Dallas Observer kemudian menulis di koran untuk menginformasikan bahwa respons anak tampaknya diambil dari alur cerita Avatar: The Last Airbender; kartun anak-anak yang ditampilkan di Nickelodeon.

Nick Colangelo, seorang profesor Universitas Iowa yang mengkhususkan diri dalam pendidikan anak-anak berbakat, menyatakan bahwa buku Indigo pertama seharusnya tidak diterbitkan, dan bahwa “..gerakan anak-anak indigo bukanlah tentang anak-anak, dan tidak tentang warna nila. Ini adalah tentang orang dewasa yang ahli membuat uang di buku, presentasi dan video.”

Mempunyai kemampuan psikis/supranatural.
Mengekspresikan kemarahan dan mempunyai masalah dengan menahan amarah.
Membutuhkan dukungan untuk menemukan diri mereka.
Kreatifitasnya tinggi.
Mudah teralihkan perhatiannya, bisa mengerjakan banyak hal bersamaan.
Menunjukan intuisi yang kuat.
Punya empati yang kuat terhadap sesama, atau tidak punya empati sama sekali.
Sangat berbakat dan rata-rata sangat pintar.
Susah konsentrasi dan hiperaktif.
Mempunyai visi dan cita-cita yang kuat.
Mempunyai kesadaran diri yg tinggi, terhubung dengan sumber (Tuhan).
Mengerti jika dirinya layak untuk berada di dunia.
Mempunyai pengertian yang jelas akan dirinya.
Tidak nyaman dengan disiplin dan cara yang otoriter tanpa alasan yang jelas.
Menolak mengikuti aturan atau petunjuk.
Tidak sabaran dan tidak suka bila harus menunggu.
Frustasi dengan sistem yang sifatnya ritual dan tidak kreatif.
Mereka punya cara yg lebih baik dlm menyelesaikan masalah.
Sebagian besar adalah orang yg menimbulkan rasa tidak nyaman.
Tidak bisa menerima hukuman yang tanpa alasan, selalu ingin alasan yang jelas.
Mudah bosan dengan tugas yg diberikan.
Pandangan mata mereka terlihat, bijaksana, mendalam dan tua.

Frustasi dengan budaya populer.
Tidak terima bila hak-hak mereka diambil atau diinjak-injak.
Punya hasrat yang membara untuk merubah dunia, tapi kesulitan menemukan jalurnya.
Mempunyai ketertarikan akan hal spiritual dan kemampuan psikis saat usia muda.
Punya beberapa “Role model” Indigo.
Punya intuisi yang kuat.
Punya sifat atau jalan pikir yang tidak biasa, sulit fokus pada tugas, atau meloncat-loncat di tengah pembicaraan.
Pernah mengalami pengalaman spiritual, psikis dan lainnya.
Sensitif terhadap yang berhubungan dengan listrik.
Mempunyai kesadaran akan dimensi lain.
Secara seksual sangat ekspresif atau malah menolak seksualitas aga bisa mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Mencari arti hidup mereka dan mengerti tentang dunia, mereka bisa mencarinya dengan melalui agama, buku.
Waktu mereka merasa diri mereka seimbang, mereka akan menjadi kuat, sehat, dan individu yang bahagia.
Mereka pintar walaupun tidak selalu berada di tingkatan paling atas.
Kreatif dan sangat menikmati menciptakan sesuatu.
Selalu ingin tahu kenapa, khususnya jika mereka disuruh melakukan sesuatu.
Muak akan pekerjaan yang banyak dan berulang-ulang di sekolah.
Pemberontak di sekolah/kampus, menolak mengerjakan tugas atau ingin memberontak tapi tidak berani karena ada tekanan dari orang tua.
Punya masalah dengan keberadaan, seperti tidak diterima, atau terasing. Biasanya menimbulkan perasaan ingin bunuh diri, tapi tidak benar-benar melakukannnya.
Punya masalah dengan amarah.
Tidak nyaman dengan politik karena merasa suara mereka tidak dihitung, dan tidak peduli dengan hasil yang keluar.

Sumber: Artikel terkait

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 19.49
Menu ini merupakan menu yang spesial buat blog anda. Dengan warna yang berbeda-beda dan menu drop down yang memanjang, karena itulah menu ini saya beri nama menu warna-warni tebar pesona dengan effect jquery hehe... Menu ini didapatkan dari Mybloggertrick, dan semoga dengan menu ini tampilan blog anda lebih profesional.

 colourful jquery menu

1. Login ke blog kamu.
2. Pilih Rancangan > Edit HTML > Cari Kode <head>
3. Letakan kode di bawah ini tepat di bawah kode <head>



4. Selanjutnya cari kode:



5. Tambahkan kode berikut:



6. Jika tidak ada kode body {  letakan saja kode yang nomor 5 tepat di atas ]]></b:skin>
7. Selanjutnya cari kode <body> atau <body expr:class='&quot;loading&       quotdata:blog.mobileClass'>
8. Setelah ketemu letakan kode Menu dan CSS nya di bawah ini tepat di bawah kode nomor 6. 



 Klik dulu pratinjau dan setelah berhasil baru Simpan Template.

Sumber:  http://www.mybloggertricks.com
Adapted from: BlazzerBlog

Cara membuat menu warna-warni tebar pesona dengan effect jquery

Posted at  03.56  |  in  tips dan triks blog  |  Read More»

Menu ini merupakan menu yang spesial buat blog anda. Dengan warna yang berbeda-beda dan menu drop down yang memanjang, karena itulah menu ini saya beri nama menu warna-warni tebar pesona dengan effect jquery hehe... Menu ini didapatkan dari Mybloggertrick, dan semoga dengan menu ini tampilan blog anda lebih profesional.

 colourful jquery menu

1. Login ke blog kamu.
2. Pilih Rancangan > Edit HTML > Cari Kode <head>
3. Letakan kode di bawah ini tepat di bawah kode <head>



4. Selanjutnya cari kode:



5. Tambahkan kode berikut:



6. Jika tidak ada kode body {  letakan saja kode yang nomor 5 tepat di atas ]]></b:skin>
7. Selanjutnya cari kode <body> atau <body expr:class='&quot;loading&       quotdata:blog.mobileClass'>
8. Setelah ketemu letakan kode Menu dan CSS nya di bawah ini tepat di bawah kode nomor 6. 



 Klik dulu pratinjau dan setelah berhasil baru Simpan Template.

Sumber:  http://www.mybloggertricks.com
Adapted from: BlazzerBlog

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 03.56
Tombol back to top berfungsi untuk mengembalikan posisi dari bawah kembali lagi ke atas dalam sebuah website / blog. Sehingga memudahkan pengunjung suatu website / blog untuk kembali ke atas tanpa menggunakan scroll. Saya juga menerapkannya di blog karena simple, cantik dan keren. Lihat screen shot nya di bawah ini:


Langsung saja tanpa basa basi menuju TKP :)
1. Login ke blog kamu.
2. Pilih Tata Letak > Add Gadget > HTML/JavaScript > Copy kode di bawah ini.



 3. Simpan dan lihat hasilnya.

Semoga bermanfa'at...

Cara membuat tombol kembali keatas dengan mudah di blog (button to top up with jquery)

Posted at  03.00  |  in  tips dan triks blog  |  Read More»

Tombol back to top berfungsi untuk mengembalikan posisi dari bawah kembali lagi ke atas dalam sebuah website / blog. Sehingga memudahkan pengunjung suatu website / blog untuk kembali ke atas tanpa menggunakan scroll. Saya juga menerapkannya di blog karena simple, cantik dan keren. Lihat screen shot nya di bawah ini:


Langsung saja tanpa basa basi menuju TKP :)
1. Login ke blog kamu.
2. Pilih Tata Letak > Add Gadget > HTML/JavaScript > Copy kode di bawah ini.



 3. Simpan dan lihat hasilnya.

Semoga bermanfa'at...

Written by: jalupangna
Wawasan spiritual dan blogging, Updated at: 03.00
About Us-Privacy Policy-Contact us
Copyright © 2013 Wawasan spiritual dan blogging. Blogger Template by BloggerTheme9
Proudly Powered by Blogger.
back to top